Explore-Indonesia

  • Home
  • City
    • Jakarta
    • Yogyakarta
    • Bali
    • Jawa
    • Sumatera
    • Kalimantan
    • Sulawesi
    • Papua
  • Hotels
    • Jakarta
    • Yogyakarta
    • Bali
    • Jawa
    • Sumatera
    • Kalimantan
    • Sulawesi
    • Papua
  • Travel
    • Jakarta
    • Yogyakarta
    • Bali
    • Jawa
    • Sumatera
    • Kalimantan
    • Sulawesi
    • Papua
  • Nature
  • History
  • food beverage
  • other category
Showing posts with label History. Show all posts
Showing posts with label History. Show all posts

Tuesday, November 25, 2014

Museum Tani bantul

 Unknown     5:03 PM     History     1 comment   



      Budaya bertani, kurang begitu popular bagi generasi penerus. Namun, hal itu tak mematikan semangat seorang Kristya Bintara dalam mendirikan Museum Tani Jawa Jogjakarta. Melalui museum ini, dia konsisten melestarikan tradisi budaya pertanian gaya Jawa.

      SUASANA asri menyambut Radar Jogja saat memasuki Candran Kebinagung Imogiri Bantul, Jumat siang (10/10). Hamparan pematang sawah menyejukkan mata siang itu. Hijaunya padi mampu mengalahkan terik matahari yang menyengat. Memasuki gapura desa, puluhan memedi sawah terpasang di beberapa areal persawahan seluas 20 hektare. Tepat di ujung jalan, sebuah bangunan berukuran 8 x 8 meter penuh dengan hiruk pikuk manusia. Ternyata siang itu Museum Tani Jawa Jogjakarta sedang ada gawe pembukaan Gebyar Museum 2014. Di tengah hiruk pikuk itu, nampak satu orang terlihat tegang, yakni Kepala Museum Tani Jawa Jogjakarta, Kristya Bintara. Ia terlihat sibuk mengatur beberapa persiapan.

      Begitu Radar Jogja mencoba menyapanya, senyum pun terkembang.
“Monggo mas, duduk di kursi kayu ini, sambil menikmati semilir angin sawah,” katanya. Mengawali obrolan, Kris -panggilan akrab Kristya- bercerita seputar sejarah museum. Museum sederhana ini digagas sejak 1998. Berdirinya bangunan berarsitektur Jawa ini merupakan wadah komunikasi pertanian tradisional gaya Jogjakarta.

      Menurut pria kelahiran Bantul, 25 Mei 1968 ini, bertani merupakan budaya yang sangat penting. Sedangkan pada waktu itu, museum yang memiliki konsentrasi pada pertanian, tidak ada. Atas inisitif ini pula, dirinya mendirikan museum tani Tujuan mendirikan museum ini, kata Kris, untuk mengomunikasikan budaya pertanian kepada generasi muda. Menu-rutnya, dalam budaya tani, banyak bilai-nilai luhur yang dapat dipelajari. “Tentang nilai kejuangan para petani yang menjunjung kejujuran, kesederhanaan dan bersahaja. Sosok petani adalah manusia yang selalu bersyukur pada sang pencipta. Ini tercermin dengan adanya budaya wiwitan sebelum panen, dan merti desa setelah panen raya,” tutur Kris. Suami perempuan bernama Rusmilah itu menyebut nilai-nilai seperti inilah yang perlu diwariskan. “Ini karena manusia lebih banyak menuntut tanpa menikmati dan berterima kasih atas apa yang diperolehnya,” ungkapnya.

      Tradisi ini, lanjutnya, tetap dilakukan oleh para petani bertradisi Jawa. Meski hasil panen sedikit, kekayaan khasanah tanah Jawa tetap dilangsungkan. Ini bukti bahwa budaya tradisi tetap menjadi pegangan dan tonggak bagi para petani. “Alangkah indahnya ketika nilai-nilai ini bisa dipahami, diterapkan dan dilestarikan. Tidak hanya untuk bertani, filosofi hidup ini juga sangat berman-faat pada kehidupan sehari-hari,” kata ayah dari Khoirun-nisa Candra ini. Selain memiliki misi menjaga nilai-nilai pertanian, Kris juga memberdayakan warga sekitar. Salah satunya dengan mendiri-kan paket wisata tradisi di desanya. Tujuannya untuk menghidupkan perekonomian masyarakat. Terlebih, warga Kebonagung mayoritas merupakan petani sehingga mata pencahariannya sangat bergantung pada tiga bulan sekali. Ini karena usia produktif memasuki masa panen, adalah setiap tiga bulan.
Dalam jangka waktu tiga bulan ini, pundi-pundi perekonomian tersendat. Alhasil banyak petani yang sangat bergantung pada hasil panen tiga bulan kemudian.
Konsep desa wisata yang diterapkan adalah dengan menguatkan nilai-nilai tradisi. “Sehingga menanam padi, menangkap ikan, belut dan bebek di sawah, menjadi kemasan wisata. Setiap wisatawan yang datang dapat menikmati proses pembuatan emping tradisional, lalu tempe alami, juga kekayaan tradisi lainnya,” paparnya.

      Selain itu, Kris juga menyelenggarakan Festival Memedi Sawah. Acara rutin tahunan ini mengajak para petani mengha-dirkan memedi sawah secara kreatif. Selain mengandung nilai seni, juga dapat mengundang lebih banyak pengunjung. Dengan ragam kegiatan ini, Kris dapat menjalankan visi misinya dalam bidang perta-nian. Pelestarian nilai pertanian dengan cara yang menyenang-kan dihadirkan. Imbasnya, baik pelaku atau penikmat, sama-sama mendapatkan nilai tentang pertanian. “Kampanye ini wajib kita galang terus bagi generasi muda. Dulu ada siswa SMP dari Jakarta bertanya pohon nasi itu seperti apa. Ini dilema karena kenyataannya ada yang tidak tahu wujud dari padi,” katanya.

      Kris berharap, ke depannya Museum Tani Jawa dapat menguatkan ketahanan pangan. Ia ingin Indonesia yang dulu terkenal sebagai lumbung Asia bangkit kembali. Ini karena pangan merupakan kekuatan penting dalam sebuah negara. Usahanya untuk menawarkan ke masyarakat masih dalam proses. Sejak tahun 1998 dicanang-kan dan diawali dari museum, Kris masih berusaha. Bahkan dirinya tidak menampik ada kendala dalam pengenalan program-program ini.
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Monday, November 17, 2014

Museum Panglima Besar Jenderal Sudirman

 Unknown     11:21 AM     History     1 comment   


      Sejarah singkat Museum Panglima Besar Jenderal Sudirman terletak di Jalan Bintaran Wetan 3, Yogyakarta. Pada masa kolonial Belanda, gedung ini dipergunakan sebagai rumah dinas pejabat keuangan Puro Paku Alam VII. Pada masa pendudukan Jepang, gedung ini dikosongkan dan perabotnya disita. Setelah Indonesia merdeka digunakan sebagai Markas Kompi 'Tukul' Batalion Letkol Soeharto. Sejak 18 Desember 1945 sampai 19 Desember 1948 difungsikan sebagai kediaman resmi Jenderal Sudirman, setelah dilantik menjadi Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat.

      Pada masa Perang Kemerdekaan menghadapi Agresi Militer Belanda II, gedung ini digunakan sebagai Markas Informatie voor Geheimen Brigade T tentara Belanda. Setelah pengakuan kedaulatan RI tanggal 27 Desember 1949 difungsikan sebagai Markas Komando Militer Kota Yogyakarta. Selanjutnya digunakan sebagai asrama Resimen Infanteri XIII dan Penderita Cacat. Sejak 17 Juni 1968 sampai 30 Agustus 1982 difungsikan sebagai Museum Angkatan Darat. Peresmian Museum Sasmitaloka Pangsar Jenderal Sudirman dilakukan oleh Kasad Jenderal TNI Poniman pada tanggal 31 Agustus 1982.

      Sudirman lahir pada Senin Pon 24 Januari 1916 di Dukuh Rembang, Bantarbarang, Purbalingga. Pendidikan umum Hollandsch-Inlandsche School, Cilacap, tamat 1931. Melanjutkan ke Taman Siswa dan MULO Wiworotomo, Cilacap, tamat 1934 dan HIK Muhammadiyah, Solo. Saat di MULO ini, Sudirman dididik oleh Suwardjo Tirtosupono, lulusan Akademi Militer Breda Belanda, yang tidak ingin dilantik sebagai Opsir KNIL, tetapi memilih terjun ke pergerakan nasional. Pendidikan militer ditempuh di Pusat Pendidikan Perwira PETA Jawa Boei Giyugun Kanbu Renseitai, Bogor, sebagai Daidancho (Danyon).

      Kepemimpinan dan kepribadian Sudirman teruji di Kepanduan Hizbul Wathon Muhammadiyah, Cilacap. Sudirman disegani oleh masyarakat sehingga dipercaya memimpin Kepanduan Karesidenan Banyumas, Jawa Tengah, dan Priangan Timur. Karier Sudirman semakin cemerlang, sehingga dipercaya menjadi Wakil Majelis Pemuda Muhammadiyah, guru dan Kepala HIS.

     Sudirman muda bertemu dengan Alfiah saat sekolah di MULO. Keduanya sama-sama aktif di Organisasi Pemuda Muhammadiyah. Tahun 1936 Sudirman menikah dengan Alfiah, putri R. Sastroatmodjo, sosok pedagang yang disegani di daerah Plasen, Cilacap. Keluarga Sudirman yang sederhana dan harmonis dikaruniai 4 putri dan 3 putra.

     Sebagai Komandan Divisi V/TKR Purwokerto, Kolonel Sudirman terjun langsung memimpin anak buah ke gelanggang pertempuran Ambarawa. Dengan taktik Mangkara Yuddha (Supit Urang), selama 4 hari 4 malam Kolonel Sudirman melawan tentara Sekutu yang bersenjata lengkap dan modern. Sekutu berhasil dipukul mundur tanpa sempat menyelamatkan mayat-mayat serdadunya. Palagan Ambarawa merupakan pertempuran heroik yang dimenangkan bangsa Indonesia setelah kemerdekaan.

      Agresi Militer Belanda II yang menyebabkan Pemerintah RI menyerah dan ibukota Yogyakarta jatuh  ke tangan Belanda disikapi dengan perlawanan Perang Gerilya. Selama 7 bulan perang gerilya dengan rute kurang lebih 1.009 kilometer ini secara strategis merupakan kemenangan politis yang diakui PBB, bahwa RI masih ada dan taktis membuktikan Jenderal Sudirman adalah komandan lapangan, ahli strategi perang yang tangguh, disegani anak buah dan lawan.

     Untuk melestarikan dan mewariskan nilai-nilai luhur perjuangan, pengabdian dan jasa Jenderal Sudirman kepada bangsa dan negara yang telah diangkat sebagai Pahlawan Nasional, maka kediaman tersebut diabadikan sebagai Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Sudirman.

     Tata ruang dan koleksi Museum Jenderal Sudirman
Benda-benda koleksi otentik Panglima Besar Jenderal Sudirman yang digelar di ruang pameran yang semua merupakan kediaman resmi.

RUANG I: RUANG TAMU
Dipamerkan satu perangkat meja kursi berbentuk munton yang beralaskan babut yang dilengkapi dua lampu gantung model kuno, serasi dengan gedung yang telah berusia satu abad. Meja kursi yang sederhana ini mencerminkan kepribadian Pak Dirman yang sederhana, lebih mengutamakan kepentingan perjuangan bagi bangsa dan negara daripada kepentingan pribadi. Di ruang ini Pak Dirman biasa menerima tamu pada waktu itu.

RUANG II: RUANG SANTAI
Terletak di tengah gedung, tidak hanya berfungsi sebagai ruang keluarga Jenderal Sudirman dalam membina dan mengasuh putra-putrinya, tetapi juga sebagai ruang tamu. Di ruang ini Jenderal Sudirman sering membicarakan masalah-masalah yang ada kaitannya dengan perjuangan bangsa Indonesia. Koleksi yang dipamerkan berupa raido kuno merk Philips dan benda pecah-belah yang pernah digunakan oleh keluarga Pak Dirman.

RUANG III: RUANG KERJA
Di ruang ini Pak Dirman menyelesaikan tugas-tugasnya dan mengatur kebijakan perjuangan TNI. Koleksi yang dipamerkan berupa:
Meja kerja, meja kursi tamu, pesawat telepon, lemari arsip.
Replika keris yang senantiasa dipakai Pak Dirman waktu memimpin perang gerilya.
Padang Katana sewaktu menjadi Daidancho PETA.
Senapan Lee Enfield (LE), Vickers dan SMR mitraliur.
Piagam penghargaan dan tanda jasa yang dianugerahkan Pemerintah RI kepada Pak Dirman.

RUANG IV: RUANG TIDUR TAMU
Ruang ini dahulu berfungsi sebagai ruang tidur tamu, baik keluarga maupun teman-teman seperjuangan Pak Dirman. Perlakuan terhadap para tamu sungguh sangat terpuji. Pak Dirman tidak pernah membeda-bedakan para tamu, memperlakukan dan menghormati semua tamu dengan baik sehingga para tamu merasa betah seperti di rumah sendiri. Koleksi yang dipamerkan berupa tempat tidur, almari pakaian, kursi tamu dan lukisan pemandangan.

RUANG V: RUANG TIDUR PANGSAR JENDERAL SUDIRMAN
Ruang ini dipergunakan oleh Pak Dirman sebagai kamar tidur selama tinggal di gedung ini. Koleksi yang dipamerkan berupa tempat tidur, almari pakaian dan sebuah dipan kecil tempat sembahyang serta rekalnya. Pak Dirman dikenal sebagai seorang pemimpin yang bijaksana, yang teguh serta memiliki disiplin tinggi serta sebagai tokoh yang taat beragama, tidak pernah melupakan tugas kewajiban sebagai muslimin, yang taat menjalankan ibadah sholat lima waktu. Koleksi lain yang dipamerkan berupa patung lilin life size Pak Dirman duduk di kursi, lengkap dengan pakaian tradisional, ikat kepala, sandal asli yang pernah dipakai beliau, sebuah lukisan Pak Dirman beserta Ibu Sudirman dengan busana tradisional Jawa dan mesin jahit merk Singer yang merupakan benda kesayangan Ibu Dirman. Mesin jahit tersebut menjadi pelipur lara kesepian di kala Ibu Dirman ditinggal tugas sang suami tercinta dan sering dipergunakan Ibu Dirman untuk menjahit pakaian Pak Dirman serta pakaian putra-putri beliau.

RUANG VI: RUANG TIDUR PUTRA-PUTRI
Bersebelahan dengan ruang tidur Pak Dirman, terdapat sebuah kamar tidur putra-putri dari pernikahan dengan Siti Alfiah, yang dikaruniai sembilan orang anak. Perhatian dan kasih sayang Pak Dirman terhadap putra-putrinya sangat besar. Beliau sering menasehati putra-putrinya agar bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu agar kelak menjadi orang yang berguna bagi Nusa, Bangsa, dan Negara.

RUANG VII: RUANG SEKRETARIAT
Sewaktu Pak Dirman tinggal di sini, ruang ini dipergunakan sebagai ruang sekretariat. Saat ini dipakai sebagai ruang penyimpanan koleksi benda-benda sejarah yang erat hubungannya dengan jabatan Panglima Besar, berupa seperangkat meja kursi yang pernah dipakai Letkol Isdiman sewaktu mengusulkan Kolonel Sudirman untuk dipilih dan diangkat menjadi Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia dihadapan Pak Urip Sumoharjo dan Pak Gatot Subroto. Di dinding ruangan ini terpampang foto setengah badan Letkol Isdiman dan Sumpah Anggota Pimpinan Tentara.

RUANG VIII: RUANG PALAGAN AMBARAWA
Dipamerkan maket Palagan Ambarawa sebagai pertempuran yang membuktikan keunggulan strategi dan taktik Kolonel Sudirman yang turun langsung ke gelenggang untuk memimpin anak buah melawan tentara Sekutu yang memiliki persenjataan modern dan lengkap. Kemenangan pasukan TKR dan laskar rakyat merupakan peristiwa gemilang dalam sejarah perang kemerdekaan di Indonesia. Tentara Sekutu berhasil dipukul mundur ke arah Semarang dengan korban yang sangat besar. Di ruangan ini juga dipamerkan dua pucuk senjata mesin ringan.

RUANG IX: RUANG RS PANTI RAPIH
Panglima Besar Jenderal Sudirman yang selalu bekerja keras tanpa mengenal waktu, mulai terganggu kesehatannya. Dari hasil pemeriksaan dokter diketahui bahwa paru-parunya terserang penyakit, sehingga paru-paru yang sebelah kiri harus dioperasi di tengah-tengah situasi gejolak Angkatan Perang RI sedang menumpas pemberontakan PKI di Madiun pada akhir November 1948.

Pak Dirman menjalani operasi di RS Panti Rapih, Yogyakarta. Namun mengingat situasi negara bertambah gawat, maka tanpa menghiraukan rasa sakit Pak Dirman masih juga bekerja, mengatur dan menyusun strategi militer dengan para perwira lain sekalipun saat itu harus duduk di atas kursi roda. Peristiwa tersebut digambarkan menjadi diorama evokatif.

RUANG X: RUANG KOLEKSI KENDARAAN
Saat perang gerilya dari Yogyakarta sampai Kediri, Jawa Timur pulang pergi, Jenderal Sudirman pernah naik dokar, mobil serta dibawa dengan tandu yang digambarkan sebagai diorama evokatif.

RUANG XI: RUANG KOLEKSI GUNUNG KIDUL DAN SOBO
Sewaktu Pak Dirman memimpin gerilya, beliau pernah singgah beberapa hari di daerah Wonogiri, tepatnya daerah Semanu, Kabupaten Gunung Kidul. Selanjutnya gerilya bergerak ke timur sampai Kediri, Jawa Timur. Ke arah barat daya sampai di daerah Sobo, Pacitan. Di Sobo inilah Pak Dirman tinggal agak lama. Beliau mulai melaksanakan tugasnya sebagai Panglima Besar secara teratur. Perkembangan situasi politik di dalam dan di luar negeri diikuti dengan cermat dan teratur melalui radio dan surat kabar. Hubungan komando dengan para komandan lapangan TNI maupun PDRI di Sumatera Barat berjalan lancar. Sementara itu Pak Dirman berkesempatan pula menerima kunjungan beberapa orang menteri seperti Susanto Tirtoprodjo untuk membicarakan langkah perjuangan selanjutnya. Di tempat ini pula Pak Dirman menerima Caraka (utusan) Letkol Soeharto (Presiden RI ke-2) yang melaporkan rencana serangan umum terhadap Yogyakarta. Serangan umum yang dilancarkan pada tanggal 1 Maret 1949 berhasil dengan baik dan berpengaruh besar terhadap dunia internasional. Keberhasilan serangan umum itu membuktikan kepada dunia, khususnya Belanda bahwa Republik Indonesia masih ada dan TNI sebagai kekuatan bersenjata masih meneruskan perjuangan mempertahankan Negara Republik Indonesia.

RUANG XII: RUANG DIORAMA
Menggambarkan saat Pangsar Jenderal Sudirman bermarkas di daerah Sobo sejak 1 April hingga 7 Juli 1949. Di ruang ini juga dipamerkan tandu yang digunakan Pangsar Jenderal Sudirman dalam Perang Gerilya dari Kretek menuju Playen, Gunung Kidul dan Route Gerilya dari Yogya sampai Kediri.

RUANG XIII: RUANG KOLEKSI PRIBADI
Jenderal Sudirman telah tiada. Namun jasa-jasanya senantiasa dikenang oleh seluruh bangsa Indonesia sepanjang zaman. Suatu hal yang harus dimaknai oleh generasi penerus Indonesia yaitu keyakinan dalam amanat, 'Robek-robeklah badanku, potong-potonglah jasad ini, tetapi jiwaku yang dilindungi benteng Merah Putih akan tetap hidup, tetap menuntut bela siapapun lawan yang akan dihadapi.'

RUANG XIV: RUANG DOKUMENTASI
Koleksi yang dipamerkan berupa dokumentasi foto Perang Gerilya, menjabat Panglima Besar hingga pemakaman Jenderal Sudirman di TMP Kusuma Negara Yogyakarta.

PRIBADI DAN KEPEMIMPINAN PANGLIMA BESAR JENDERAL SUDIRMAN
TAKWA DAN LOYAL
JUJUR DAN MEMBIMBING
SEDERHANA DAN TIDAK MENONJOLKAN DIRI
PENDIAM DAN BERBICARA MEMIKAT PENDENGAR
PENDIRIAN KUAT DAN DISIPLIN TERHADAP KEPUTUSAN MUSYAWARAH
TABAH DAN SABAR MENGHADAPI SITUASI
MENOMORSATUKAN KEPENTINGAN NASIONAL


Alamat:
Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Sudirman
Jalan Bintaran Wetan No. 3
Yogyakarta
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Sunday, November 16, 2014

Candi Sambisari

 Unknown     11:49 PM     History     1 comment   


      Candi Sambisari merupakan salah satu warisan dari era Hindu . Candi ini dibangun pada abad ke-10 sekitar sekitar 812-838 AD . Itu dibangun oleh dinasti Syailendra tepatnya pada masa pemerintahan Rakai Garung .
Candi ini tidak sengaja ditemukan oleh seorang petani pada tahun 1966 ketika ia menggali lapangan. Candi ini diperkirakan akan terkubur oleh material vulkanik dari letusan Merapi pada 1006 . Sebuah penggalian dilakukan setelah itu oleh Pusat Arkeologi Yogyakarta menemulkan tidak hanya bangunan candi tetapi juga artefak lainnya . Artefak yang ditemukan di situs penggalian adalah perhiasan , keramik dan prasasti emas . Penggalian dilanjutkan dengan rekonstruksi candi . Butuh waktu 21 tahun untuk merekonstruksi candi .

     Lokasi Candi Sambisari candi Sambisari terletak di Dusun Sambisari , Desa Purwomartani , Kecamatan Kalasan , Kabupaten Sleman , Yogyakarta . Lokasinya sekitar 10 Km dari Yogyakarta , atau sekitar 5 Km di sebelah barat Candi Prambanan .

      Apa yang harus dilihat dan dilakukan setibanya di lokasi untuk pertama kalinya Anda mungkin bertanya-tanya mengapa tidak ada candi di situ . Tapi setelah bergerak maju , Anda akan dapat melihat pandangan yang jelas dari kawasan candi . Alasan mengapa Anda tidak dapat melihat candi adalah bahwa lokasi candi di bawah tanah . Candi ini ada sekitar 6,5 meter di bawah tanah . Oleh karena itu , orang sering menyebut candi sebagai kuil bawah tanah .

      Situs ini terdiri dari satu candi utama dan tiga candi yang menyertainya di depan yang utama . Candi ini dikelilingi oleh dua lapisan dinding yang terbuat dari batu putih di total luas 50 × 48 m . Diperkirakan bahwa total luas situs ini jauh lebih besar daripada apa yang dapat dilihat sekarang . Namun, arkeolog mengatakan bahwa candi tidak dapat digali lagi karena ketinggian lahan. Dikhawatirkan jika mereka menggali lebih lanjut candi akan dibanjiri oleh air dari sungai di bagian barat selama musim hujan .

      Memasuki candi utama , Anda akan melihat patung makara didukung oleh dua bintang katai . Di dalam candi induk terdapat patung lingga – yoni merupakan ibadah untuk Shiva . Candi utama di luar dinding memiliki tiga relung di setiap sisi . Relung yang diisi dengan patung-patung . Relung di sisi utara memiliki patung Dewi Durga , sisi timur memiliki patung Ganesha dan sisi selatan memiliki patung Agastya .

     Di depan candi induk tiga candi tambahan di daerah 4,8 meter persegi dan tinggi 5 meter . Kuil-kuil tambahan dibangun tanpa mahkota . Di dalam kuil terdapat platform persegi dihiasi dengan naga dan lotus bentuk . Platform diperkirakan sebagai tempat untuk meletakkan persembahan.

Tiket Masuk Candi Sambisari dan informasi pengunjung
Tiket masuk biaya Rp 2000.
Sebuah ruang informasi yang penuh dengan foto-foto selama penggalian dan rekonstruksi tersedia di dekat candi .
Jalan menuju candi adalah jalan aspal yang dapat dilalui oleh sepeda motor atau mobil .
Tempat parkir tersedia di daerah tersebut .

Cara ke Candi Sambisari
Dengan transportasi umum : mengambil rute bus Yogya -Solo dari Janti dan berhenti di Jalan Yogya-Solo Km 10 ( memperhatikan tanda jalan ) . Dari sana , Anda dapat melanjutkan dengan ojek ( sepeda motor taksi ) untuk sekitar 2 Km .

Dengan kendaraan pribadi : kepala ke rute timur ke Solo . Di Yogya -Solo Km 10 Jalan , menemukan tanda jalan yang menunjukkan arah ke Candi Sambisari dan belok kiri . Terus lurus selama sekitar 2 Km .
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Candi Morangan

 Unknown     8:23 AM     History     No comments   


 

      Selain Kabupaten Magelang yang merupakan rumah bagi situ candi, Kabupaten Sleman juga tak Kalah dengan Magelang, Puluhan candi terdapat di Kabupaten Sleman ini, dari yang belum dikenal wisatawan luas, sampai yang sudah terkenal luas oleh wisatawan dalam negeri dan wisatawan mancanegara, tentunya hal ini sangat menarik untuk diteliti, dipelajari dan dilihat kemegahan dan keunikan setiap candinya. Di Kabupaten Sleman ini anda bisa menemukan situ candi yang unik dan menawan” candi morangan”. Candi morangan terletak di Dusun Morangan,Desa Sindumartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Dicandi yang ditemukan sejak jaman penjajahan ini anda akan menemukan berbagai arca dan relief yang menarik untuk dilihat. Candi ini bisa anda jadikan tujuan wisata ataupun alternatif wisata anda saat berkunjung ke Yogyakarta, kepuasan untuk mengetahui lebih dalam situs candi di Indonesia akan anda dapatkan.

      Candi yang diperkirakan dibangun pada pada abad ke-9 dan ke-10 ini mempunyai peninggalan- peninggalan yang sangat menarik, disini anda bisa menemukan 2 reruntuhan candi yaitu candi induk dan candi perwara, selain itu berbagai arca dan relief juga bisa anda temukan. Candi induk dan candi perwara ini masih dalam proses penyusunan dan pemugaran, sedangkan untuk arca anda bisa menemukan, arca nandi yaitu merupakan kendaraan dewa siwa. Relief- relief yang sangat menarik seperti arca kala yang dikanan kiri wajahnya terdapat sebuah mahluk kecil membawa sebuah pentungan seperti melambangakan sebuah dwarapala yang merupakan mahluk penjaga gerbang. Relief- relief direruntuhan candi ini memang sangat menarik dan unik untuk dilihat, tidak akan kecewa jika anda berkunjung ke situs candi ini.

   Di situs candi morangan ini juga terdapat 3 yoni yang masih dalam kedaan bagus, yoni yang terdapat di candi ini merupakan gambaran bagaiman situs candi ini dulu dipergunakan sebagai tempat peribadatan umat hindhu. Selain candi morangan ini anda juga bisa datang dan berwisata di situs candi lainya yang berada di Kabupaten Sleman, seperti candi kalasan,candi ijo dan candi sambisari yang tak kalah menarik untuk dilihat dan diteliti sejarah dan kebudayaannya. Jadikan candi marongan sebagai tujuan wisata anda untuk menambah daftar situs candi yang pernah anda kunjungi.
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Cadi Sari

 Unknown     7:24 AM     History     No comments   


Candi Sari terletak sekitar 10 Km dari pusat Yogyakarta, hanya sekitar 3 km dari Candi Kalasan. Tepatnya candi ini berada di Desa Bendan, Kelurahan Tirtamartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Sesuai dengan nama desa tempatnya berada, Candi ini juga disebut Candi Bendan.

Menurut perkiraan candi ini dibangun pada abad ke- 8 M, yaitu pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran, bersamaan dengan masa pembangunan Candi Kalasan. Kedua candi tersebut memang memiliki banyak kemiripan, baik dari segi arsitektur maupun reliefnya. Keterkaitan kedua candi ini diterangkan dalam Prasasti Kalasan (700 Saka / 778 M). Dalam Prasasti Kalasan diterangkan bahwa para penasehat keagamaan Wangsa Syailendra telah menyarankan agar Maharaja Tejapurnama Panangkarana, yang diperkirakan adalah Rakai Panangkaran, mendirikan bangunan suci untuk memuja Dewi Tara dan sebuah biara untuk para pendeta Buddha. Untuk pemujaan Dewi Tara dibangunlah Candi Kalasan, sedangkan untuk asrama pendeta Buddha dibangunlah Candi Sari. Fungsinya sebagai asrama atau tempat tinggal terlihat dari bentuk keseluruhan dan bagian-bagian bangunan dan dari bagian dalamnya. Bahwa candi ini merupakan bangunan agama Buddha terlihat dari stupa yang terdapat di puncaknya.

Candi Sari ditemukan kembali pada awal abad ke-20 dalam keadaan rusak berat. Pemugaran pertama dilaksanakan antara tahun 1929 sampai 1930. Mengenai pemugaran tersebut, Kempers berpendapat bahwa hasilnya kurang memuaskan, dalam arti pemugaran tersebut belum berhasil mengembalikan keutuhan bangunan aslinya. Hal ini disebabkan oleh banyaknya bagian candi yang hilang. Selain itu, ketika pertama kali ditemukan, terdapat bagian-bagian bangunan yang sudah rusak termakan usia, terutama yang bukan terbuat dari batu.

Pada abad ke 19, sekitar 130 m dari Candi Kalasan ditemukan reruntuhan candi, yang menurut perkiraan sebagai tempat tinggal para pendeta. Candi Sari yang sekarang, yang letaknya tidak jauh dari Candi Kalasan, merupakan sebagian saja dari kumpulan candi yang telah hilang. Diperkirakan, dahulu terdapat pagar batu yang mengelilingi candi. Pintu masuk candi dijaga oleh sepasang Arca Dwarapala yang memegang gada dan ular, seperti yang terdapat di depan Wihara Plaosan.

Candi Sari berbentuk persegi panjang, dengan ukuran 17,30 x 10 m, walaupun konon denah dasar aslinya lebih panjang dan lebih lebar, karena kaki yang asli menjorok keluar sekitar 1,60 m. Tinggi keseluruhan candi dari permukaan tanah sampai puncak stupa adalah 17 - 18 meter. Gerbang candi, yang lebarnya kira-kira sepertiga lebar dinding depan dan tingginya separuh dari tinggi dinding candi, sudah tak ada lagi. Yang tersisa hanya bekas tempat bertemunya dinding pintu gerbang dengan dinding depan.

Menurut Kempers, Candi Sari ini aslinya memang merupakan bangunan bertingkat dua atau bahkan tiga. Lantai atas dulunya digunakan untuk menyimpan barang-barang untuk kepentingan keagamaan, sedangkan lantai bawah dipergunakan untuk kegiatan keagamaan, seperti belajar-mengajar, berdiskusi, dsb. Tembok candi ini juga dilapisi dengan vajralepa (brajalepa), lapisan pelindung yang juga didapati di dinding-dinding Candi Kalasan. Dari luar telah terlihat bahwa tubuh candi terbagi menjadi dua tingkat, yaitu dengan adanya dinding yang menonjol melintang seperti "sabuk" mengelilingi bagian tengah tubuh candi. Pembagian tersebut diperjelas dengan adanya tiang-tiang rata di sepanjang dinding tingkat bawah dan relung-relung bertiang di sepanjang dinding tingkat atas.

Relung-relung di sepanjang dinding luar candi, baik di tingkat bawah maupun atas, saat ini dalam keadaan kosong. Diperkirakan, relung-relung tersebut tadinya dihiasi dengan arca-arca Buddha.

Dinding luar tubuh dipenuhi pahatan arca dan hiasan lain yang sangat indah. Ambang pintu dan jendela masing-masing diapit oleh sepasang arca lelaki dan wanita dalam posisi berdiri memegang teratai. Jumlah arca secara keseluruhan adalah 36 buah, terdiri dari 8 arca di dinding depan (timur), 8 arca di dinding utara, 8 di dinding selatan, dan 12 di dinding barat (belakang). Ukuran arca-arca itu sama dengan ukuran tubuh manusia pada umumnya.

Pada bagian lain dinding dipenuhi dengan pahatan berbagai bentuk, seperti Kinara Kinari (manusia burung), suluran, dan kumuda (daun dan bunga yang menjulur keluar dari sebuah jambangan bulat). Di atas ambang jendela dan relung-relung dihiasi dengan Kalamakara tanpa rahang bawah dalam bentuk yang sangat dekoratif dan jauh dari kesan seram. Sebagaimana dengan yang terdapat pada dinding Candi Kalasan, dinding Candi Sari juga dilapisi oleh lapisan Vajralepa, yang berfungsi memberikan warna cerah dan mengawetkan batu.

Tangga naik ke permukaan kaki candi telah hancur. Di sisi tangga terdapat sebuah umpak batu. Tidak jelas apakah umpak batu itu memang berada di tempatnya semula, namun tampaknya bagian bawah umpak tadinya terbenam dalam tanah.

Pintu masuk berada di tengah sisi yang panjang di sebelah Timur. Aslinya, ambang pintu di dinding candi tersebut terletak dalam bilik penampil yang menjorok keluar. Saat ini bilik penampil tersebut sudah tidak bersisa, sehingga pintu masuk ke ruang dalam candi dapat langsung terlihat. Hiasan di bingkai dan Kalamakara di atas ambang pintu sangat sederhana, karena hiasan yang indah terletak di dinding luar bilik pintu.

Di dalam candi terdapat tiga ruangan berjajar yang masing-masing berukuran 3,48 m x 5,80 m. Kamar tengah dan kedua kamar lainnya dihubungkan oleh pintu dan jendela. Bilik-bilik ini aslinya dibangun sebagai bilik bertingkat. Tinggi dindingnya dibagi dua dengan lantai kayu yang disangga oleh empat belas balok kayu yang melintang, sehingga dalam candi ini seluruhnya terdapat 6 ruangan. Dinding bagian dalam kamar polos tanpa hiasan. Pada dinding belakang masing-masing kamar terdapat semacam rak yang letaknya agak tinggi yang dahulu dipergunakan sebagai tempat upacara agama dan menempatkan arca. Di lantai bawah terdapat beberapa tatakan arca dan relung bekas tempat meletakkan arca. Tak satupun dari arca-arca tersebut yang masih tersisa saat ini. Pada dinding kamar utara dan kamar selatan terdapat relung untuk menempatkan penerangan.

Lantai dan bagian bangunan yang terbuat dari kayu sekarang sudah tidak ada, tetapi pada dinding masih terlihat lubang-lubang bekas tempat menancapkan balok penyangga. Di dinding bilik yang paling selatan didapati batu-batu yang dipahat menyerong, yang berfungsi sebagai penyangga ujung tangga yang terbuat dari kayu.

Atap candi berbentuk persegi datar dengan hiasan 3 buah relung di masing-masing sisi. Bingkai relung juga dihiasi dengan pahatan sulur-suluran dan di atas ambang relung juga dihiasi dengan Kalamakara. Puncak candi berupa deretan stupa, yang terdiri atas sebuah stupa di setiap sudut dan sebuah di pertengahan sisi atap. Pada saat pemiotretan dilakukan, yaitu pada bulan Maret 2003, Candi Sari sedang menjalani pemugaran.
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Older Posts Home

Popular Posts

  • Gunung Api Purba
    Indahnya Gunung Api Purba Yogyakarta        Gunung api purba Nglanggeran memang purba sekali dengan usia 60 juta tahun yang lokasiny...
  • Candi Borobudur
    Candi Borobudur         Candi Borobudur merupakan satu-satunya candi budha terbesar di dunia sampai saat ini. Meskipun sekarang sudah...
  • Museum Panglima Besar Jenderal Sudirman
          Sejarah singkat Museum Panglima Besar Jenderal Sudirman terletak di Jalan Bintaran Wetan 3, Yogyakarta. Pada masa kolonial Belanda,...
  • Monumen Jogja Kembali
           Monumen Jogja Kembali merupakan ikon tempat wisata diYogyakarta selain Keraton Yogyakarta. Monjali mulai dibangun pada 29 Juni 19...
  • Taman Sari
    Taman Sari Yogyakarta Taman sari yogyakarta | Umbul Pasiraman Taman Sari Jogja atau Taman Sari Yogyakarta atau Taman Sari Wa...

Categories

  • Alam
  • History
  • HotelsYogyakarta
  • Jogja
  • Kota
  • Nature
  • Pantai
  • Sejarah

Blog Archive

  • May (6)
  • November (51)
  • October (7)

Total Pageviews

Labels

  • Alam
  • History
  • HotelsYogyakarta
  • Jogja
  • Kota
  • Nature
  • Pantai
  • Sejarah

Contributors

  • Unknown
  • Unknown

Followers

Sample Text

/*
*/

Copyright © Explore-Indonesia | Powered by Blogger
Design by Andy Sanjaya | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Distributed By Andy Sanjaya