Explore-Indonesia

  • Home
  • City
    • Jakarta
    • Yogyakarta
    • Bali
    • Jawa
    • Sumatera
    • Kalimantan
    • Sulawesi
    • Papua
  • Hotels
    • Jakarta
    • Yogyakarta
    • Bali
    • Jawa
    • Sumatera
    • Kalimantan
    • Sulawesi
    • Papua
  • Travel
    • Jakarta
    • Yogyakarta
    • Bali
    • Jawa
    • Sumatera
    • Kalimantan
    • Sulawesi
    • Papua
  • Nature
  • History
  • food beverage
  • other category
Showing posts with label Kota. Show all posts
Showing posts with label Kota. Show all posts

Sunday, November 16, 2014

Kota Gede

 Unknown     11:49 PM     Kota     1 comment   


     Warisan kemegahan Kerajaan Mataram abad ke-16 Pada abad ke 14, Pulau Jawa berada di bawah kepempinan kesultanan Pajang yang berpusat di Jawa Tengah. Sultan Hadiwijaya, Sultan yang memimpin pada saat tersebut memberikan hadiah berupa Alas (hutan) Mentaok dengan area yang cukup luas kepada Ki Gede Pemanahan. Hadiah ini diberikan setelah beliau berhasil menaklukkan musuh kerajaan. Selanjutnya, Ki Gede Pemanahan dengan keluarga dan pengikutnya berpindah ke Alas Mentaok, sebuah hutan yang sebenarnya adalah pusat Kerajaan Mataram Hindu pada masa - masa sebelumnya. Beliau membangun desa kecil di hutan tersebut.

      Desa berkembang dan setelah Ki Gede Pemanahan wafat serta digantikan oleh putranya yang bernama Senapati Ingalaga, desa berkembang sangat pesat, menjadi pusat kota yang ramai. Kota tersebut dinamakan Kotagede, yang berarti kota besar. Selanjutnya, Senapati membangun benteng yang mengelilingi keraton. Ada 2 (dua) benteng yang dibangun, yaitu benteng dalam (cepuri) dan benteng luar (baluwarti), mengelilingi kota yang mempunyai area 200 Ha. Kotagede juga dilengkapi dengan parit pertahanan yang lebar seperti sungai, mengelilingi benteng luar. Selanjutnya, terjadi peristiwa perebutan kekuasaan di Kesultanan Pajang, setelah Sultan Hadiwijaya wafat. Putra mahkota yang bernama Pajang, pangeran Benawa, berhasil disingkirkan oleh Arya Pangiri. Dengan berbekal bantuan Senapati, pangeran Benawa berusaha merebut kekuasaan kembali. Arya Pangiri pun akhirnya berhasil ditaklukkan namun beliau diampuni oleh Senapati.

      Setahun kemudian, Pangeran Benawa meninggal dan Senapati ditunjuk untuk menjadi pemimpin Kesultanan Pajang. Sejak saat itu Senapati dinobatkan menjadi raja pertama Mataram Islam, dengan gelar Panembahan. Beliau tidak mau memakai gelar Sultan Pajang, dengan maksud untuk menghormati Sultan Hadiwijaya dan Pangeran Benawa. Dengan menjadi raja Mataram Islam, Senapati menentukan pusat kota dan istana pemerintahannya di Kotagede. Panembahan Senapati akhirnya wafat pada tahun 1601 dan dimakamkan di Kotagede berdekatan dengan makam ayahnya. Kerajaan Mataram Islam kemudian berhasil menguasai hampir seluruh Pulau Jawa (kecuali Banten dan Batavia) dan mencapai puncak kejayaannya di bawah pimpinan raja ke-3, yaitu Sultan Agung (cucu Panembahan Senapati). Pada tahun 1613, Sultan Agung memindahkan pusat kerajaan ke Karta (dekat Plered) dan akhirnya berakhirlah masa Kotagede sebagai pusat kerajaan Mataram Islam.

      Ada sejumlah peninggalan Kotagede yang sangat menarik, sebagai peninggalan kerajaan Mataram Islam, seperti makam para pendiri kerajaan, Mesjid Kotagede, rumah tradisional berarsitektur Jawa Mataram, hingga sisa reruntuhan benteng. Kompleks makam pendiri kerjaan Mataram berada sekitar 100 meter dari pasar Kotagede, dikelilingi tembok besar dan kokoh. Pintu Gapura memasuki kompleks makam ini masih memiliki ciri arsitektur budaya Hindu. Setiap gapura memiliki pintu kayu yang tebal dengan ukiran yang indah dan dijaga oleh sejumlah abdi dalem berbusana adat Jawa. Ada 3 gapura yang harus dilewati sebelum masuk ke bangunan makam. Uniknya, kita diharapkan untuk menggunakan busana adat jawa untuk memasuki area makam. Pengalaman menarik menggunakan busana layaknya abdi dalem kerajaan Jawa kuno. Kita akan melewati 3 gapura sebelum sampai ke gapura terakhir yang menuju bangunan makam.

      Untuk masuk ke dalam makam, kita harus mengenakan busana adat Jawa (bisa disewa di sana). Pengunjung diperbolehkan untuk masuk ke dalam makam pada Hari Minggu, Senin, Kamis, dan Jumat, dengan periode waktu pada pk 08.00 - 16.00. Pengunjung tidak diperbolehkan untuk memotret dan mengenakan perhiasan emas di dalam bangunan makam. Sejumlah tokoh penting yang dimakamkan di sini adalah Sultan Hadiwiijaya, Ki Gede Pemanahan, Panembahan Senopati, dan anggota keluarganya. Memasuki makam, suasana terkesan sepi dan tenang, serta sangat khusuk. Keluarga kerajaan, baik kraton Yogyakarta maupun Surakarta, masih menjaga kelestarian makam ini dengan sangat baik. Di dalam kompleks makam, kita juga bisa menemui mesjid tertua di kota Yogyakarta, yaitu Mesjid Kotagede. Selain itu, ada sejumlah rumah tradisional Jawa Mataram, yang bisa dilihat di depan kompleks makam. Masih terawat dengan baik dan rumah tradisional ini masih digunakan oleh penduduk setempat sebagai tempat tinggal. Di sebelah barat daya dan tenggara, kita juga bisa menemukan sisa reruntuhan benteng dengan tembok setebal >1 meter. Sementara, untuk melihat sisa parit pertahanan yang mengelilingi benter, kita bisa beranjak ke sebelah timur, selatan, dan barat.

      Di samping kompleks makam, kita juga bisa mendapati tempat pemandian. Ada pemandian khusus pria dan wanita. Konon, air untuk pemandian pria diperoleh dari sumber di dalam kompleks makam. Sementara, air untuk pemandian wanita, diperoleh dari sumber pohon beringin di depan gerbang utama. Konon, pohon beringin ini ditanam langsung oleh Sunan Kalijaga dan telah berusia lebih dari 500 tahun. Sangat besar dengan ketinggian lebih dari 30 meter, seakan menjadi penjaga kompleks makam kotagede. Di dalam kompleks pemandian ini, terdapat hal unik bagi masyarakat awam. Kolam pemandian bercampur dengan sejumlah ikan dan ada ikan lele berukuran sangat besar bebas berenang di sini. Ukuran panjang lele 80 - 100 cm membuat kita terpesona. Belum lagi ada lele berwarna putih dengan bercak2 hitam, yang relatif langka. Bagi pengunjung yang sekedar berwisata, bisa menikmati cuci muka tangan dan kaki di sumur dekat pemandian. Sangat segar dan airnya bisa langsung diminum.

      Berjalan jalan sambil menelusuri sejarah Kotagede akan menambah wawasan kita terhadap sejarah masa lalu kotagede yang pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan Mataram Jawa. Budaya dan sejarah patut dilestarikan karena merupakan asal muasal dari peradaban masyarakat Jawa saat ini. Mengenal kota Yogyakarta tidak akan utuh tanpa berkunjung ke kotagede, pusat kerajaan Mataram masa lalu.
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Kota Baru

 Unknown     11:19 PM     Kota     No comments   

       Kotabaru Yogyakarta Kawasan Bangunan Peninggalan Belanda
Ruas jalan yang relatif besar dengan area taman dan pohon-pohon besar dan tanaman buah yang banyak terdapat di ruas jalan ini menandakan bahwa Kotabaru di siapkan sebagai Garden City. Pembangunan wilayah Kotabaru ( dahulu disebut dengan Nieuwe Wijk ) sebagai daerah pemukiman Indische bagi orang Belanda karena perubahan sosial yang terjadi di wilayah Kotabaru Yogyakarta pada waktu itu. Sekitar tahun 1920 an perkembangan bidang industri gula dan meningkatnya ketertarikan terhadap pendidikan dan kesehatan membuat jumlah orang Belanda yang menetap di Yogyakarta semakin bertambah dan meningkat sehingga menuntut percepatan pembangunan hunian baru. Kotabaru merupakan wilayah pemukiman alternatif setelah kawasan Loji Kecil dengan fasilitas lengkap dengan tata kota yang menarik.

 

Kita tidak akan menemukan sebuah gang yang sempit bila menyusuri wilayah Kotabaru Yogyakarta seperti daerah-daerah lain di Yogyakarta. Perencanan wilayah ini berkonsep radial seperti yang diterapkan di kota Belanda sendiri pada umumnya. Sangat berbeda dengan wilayah dan dan tempat lain di kota Yogyakarta yang menganut sistem pola arah angin.

Kotabaru Yogyakarta di rancang sebagai kota yang mandiri dimana setiap bangunan yang berada di tempat tersebut memiliki aksesbilitas yang mudah dan cepat untuk dijangkau. Hal ini bisa dibuktikan dengan melihat model pembuatan jalan yang saling menghubungkan satu dengan yang lainnya.
Bangunan Kuno Peninggalan Belanda di Kotabaru

Sangat mudah kita temukan bangunan peninggalan Belanda di Kotabaru Yogyakarta karena sangat banyak tersebar di seluruh kawasan Kotabaru. Beberapa bangunan kuno yang menarik tersebut antara lain :
Gereja Santo Antonius Kotabaru : bangunan yang memiliki menara tinggi yang terletak di depan gereja, terdapat juga tiang-tiang yang besar terbuat dari semen cor sebanyak 16 buah serta plafon berbentuk sungkup. Gereja ini berdiri tahun 1926, awalnya bernama Gereja Santo Antonius Van Padua. Perubahan nama ini berawal dari tempat ibadah yang dulunya di rumah Mr. Pequin ( depan Masjid Syuhada ) yang banyak sehingga tempatnya tidak mencukupi.
Kantor Asuransi Jiwasraya : pada jaman Belanda merupakan rumah dari salah satu pegawai asuransi Nill Maatschappij. Kemudian pada masa pendudukan Jepang digunakan untuk tempat tinggal perwira tinggi angkatan bersenjata Jepang yang bernama : Butaico Mayor Otsuka. Setelah kekalahan Jepang melawan Sekutu, tempat ini digunakan untuk perundingan pelucutan senjata oleh Muhammad Saleh Bardosono dengan Butaico Mayor Otsuka pada tanggal 6 Oktober 1945.
SMU Bopkri 1 : pada jaman dahulu digunakan sebagai gedung Christelijke MULO dan Akademi Militer.
Gedung SMP 5 : bangunan ini dahulu digunakan untuk Normalschool.
Gedung SMAN 3 : dulu digunakan untuk AMS
Gedung Kolese Santo Ignatius : dahulu merupakan kantor Kementrian Pertahanan dan Kantor Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta yang selanjutnya digunakan untuk markas gerilya Pangsar Soedirman.
Gedung Bimo : bangunan besar dengan rancangan art deco yang berkembang pada tahun 1920-1930. Konsep art deco adalah rancang bangun yang mengutamakan unsur tradisional setempat dengan tetap menerima inovasi baru yang memungkinkan bangunan ini berbeda dengan bangunan yang lain.
Sederetan bangunan kuno yang lain juga dengan mudah kita temui seperti : gedung bekas Kementrian Luar Negeri di simpul jalan menuju jembatan Gondolayu, rumah Brigjen Katamso di sebelah timur Stadion Kridosono, bangunan yang sekarang digunakan sebagai kantor Dinas Pariwisata dan bangunan gardu listrik hasil karya Belanda pada waktu itu.

Sebagai bentuk penghargaan terhadap para pahlawan yang berjuang pada peristiwa Serangan Kotabaru tanggal 7 Oktober 1945, seluruh nama jalan di wilayah Kotabaru menggunakan nama-nama pahlawan tersebut.

Salah satu daya trik Kotabaru Yogyakarta yaitu terdapatnya Jembatan Kewek, yaitu jembatan penyeberangan yang melintasi Kali Code yang menghubungkan Stasiun Tugu dengan Kotabaru. Secara resmi namanya jembatan Kerkweg, tetapi orang jawa biasa menyebutnya Kreteg Kewek
Lokasi Kotabaru Yogyakarta

Kotabaru saat ini menjadi nama kelurahan yang terletak di Kecamatan Gondokusuman Daerah Istimewa Yogyakarta.
Akses menuju KotabaruYogyakarta

Kotabaru sangat mudah dijangkau, baik menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Dari Tugu Yogyakarta – ke arah selatan – Jalan Pangeran Mangkubumi – jalan menurun ambil jalur kiri ke arah Kotabaru. Sedangkan bila mengambil jalur kekanan menuju Malioboro.

Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Saturday, November 15, 2014

Alun-alun utara yogyakarta

 Unknown     10:06 PM     Kota     No comments   


     Alun-alun utara atau dalam Bahasa Jawa disebut Alun-alun Lor merupakan salah satu land mark Kota Yogyakarta yang berupa sebuah tanah lapang yang berada di depan Keraton Yogyakarta. Disebut Alun-alun Lor karena di Kota Yogyakarta terdapat dua alun-alun yang letaknya di sebelah selatan dan utara dari Keraton Yogyakarta. Alun-alun Lor berbentuk persegi dengan luas 150 x 150 meter dengan dua pohon beringin besar berpagar yang berada di tengah alun-alun. Dua Pohon Beringin Besar itu masing-masing diberi nama Kyai Dewandaru dan Kyai Wijayandaru. Pada masa lalu di sekeliling Alun-alun Lor ditanam 63 Pohon Beringin yang melambangkan umur Nabi Muhammad SAW.


Alun-Alun Lor di Masa Lampau

Beberapa sumber menyebutkan bahwa dulu permukaan alun-alun adalah pasir halus yang cocok digunakan untuk tempat latihan para prajurit juga untuk unjuk kehebatan di hadapan Sultan. Sultan dan para pembesar kerajaan duduk di Siti Hinggil, yaitu bagian muka keraton yang memiliki permukaan lebih tinggi untuk melihat atraksi para prajuritnya. Alun-alun Lor juga digunakan untuk “Tapa Pepe”, yaitu suatu bentuk unjuk diri dari rakyat agar didengar dan mendapat perhatian dari sultan. Tapa Pepe dilakukan pada siang hari terik di antara dua Pohon Beringin oleh seseorang yang sedang memohon keadilan langsung kepada Sultan.
Pada masa lalu di sisi timur alun-alun terdapat pendopo-pendopo kecil yang disebut perkapalan. Perkapalan digunakan oleh para bupati untuk menginap dan beristirahat ketika menghadap sultan.

Pada zaman dahulu, Alun-alun Lor adalah wilayah sakral dimana tidak sembarang orang diperkenankan untuk memasukinya. Ada aturan-aturan yang wajib dipatuhi jika ingin memasukinya, misalnya tidak boleh menggunakan kendaraan, sepatu, sandal, bertongkat, dan mengembangkan payung. Hal ini dilakukan sebagai wujud penghormatan kepada Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Alun-Alun Lor sebagai Ruang Publik

Berbeda dengan saat ini, Alun-alun Lor menjadi sebuah ruang publik yang bisa dimanfaatkan oleh setiap orang. Di sini dapat dijumpai berbagai macam pedagang kaki lima yang mengelilingi alun-alun dari pagi hingga malam. Pada waktu-waktu tertentu, seperti Pekan Raya Sekaten, Perayaan Grebeg Maulud Nabi, serta upacara keraton lainnya, Alun-alun Lor akan menjelma sebagai sebuah tempat yang ramai dan dipadati banyak orang karena acara-acara tersebut selalu digelar di alun-alun ini. Acara lain yang biasa diadakan di sini ini adalah pertunjukan seni budaya, konser musik, pasar malam, sepeda santai, dan aktivitas lainnya.

Perjalanan ke Alun-alun Lor sangat mudah karena letaknya yang berada di tengah-tengah Kota Yogyakarta dengan kemudahan akses menuju ke sana. Jika Anda dari arah jalan Malioboro, maka lurus saja ke arah selatan melewati perempatan nol kilo meter. Dari perempatan nol kilo meter jarak ke Alun-alun Lor sekitar 100 meter.

Berkunjung ke Alun-alun Lor, sempatkan juga untuk mengunjungi tempat wisata yang berada di sekitarnya : Keraton Yogyakarta, Masjid Gedhe, sentra Gudeg Wijilan, sentra wisata Malioboro, serta Benteng Vredeburg.
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Thursday, November 13, 2014

Jogja 0 km

 Unknown     9:43 AM     Kota     No comments   


      Area di sekitar perempatan besar tempat pertemuan Jalan Jenderal Ahmad Yani, Jalan Senopati, Jalan Trikora, dan Jalan Kyai Haji Ahmad Dahlan ini memang punya beberapa sebutan, misalnya, saat ini orang banyak yang mengatakan tempat itu sebagai Perempatan Kantor Pos Besar, Perempatan BI, dan wilayah di depan Gedung Agung. Kawasan ini bahkan pernah disebut sebagai Simpang Air Mancur oleh warga kota Yogya sendiri sebab pada tahun 1970-1980an di tengah perempatan besar itu ada air mancurnya. Air mancur itulah yang disebut-sebut sebagai titik nol Kota Yogyakarta yang menjadi patokan dalam menentukan jarak antara Yogyakarta dengan daerah-daerah lainnya. Sayangnya, seiring dengan pertambahan penduduk yang berakibat semakin padatnya lalu lintas, air mancur itu kemudian dihilangkan.


      Mengenai titik nol itu sendiri, sebenarnya masih ada beragam pendapat. Beberapa orang menyebut Tugu Pal Putih yang berada di ujung utara Jalan Mangkubumi sebagai penanda titik nol di Yogyakarta, hal ini dikarenakan Tugu Pal Putih sering disebut sebagai lambang Kota Yogyakarta. Ada juga yang mengatakan bahwa titik nol di Kota Yogya adalah Kraton Yogyakarta yang menjadi pusat kerajaan. Sementara yang lain berpendapat bahwa titik nol terletak di alun-alun utara tepat di tengah-tengah dua pohon beringin yang ada di alun-alun tersebut. Terlepas dari perdebatan tersebut, Pemerintah Kota Yogyakarta telah menetapkan wilayah yang berada dalam radius 100 meter dari titik di perempatan yang dulunya sebagai tempat air mancur itu sebagai Kawasan Nol Kilometer.

      Sesuai dengan ketetapan tersebut, Kawasan Nol Kilometer menjadi kawasan wisata yang mengandung unsur sejarah dan arsitektural yang unik. Beberapa bangunan dengan arsitektur yang unik berada dalam kawasan ini antara lain Gedung Kantor Pos Besar, Gedung Bank BNI, Gedung Bank Indonesia, Benteng Vredeburg, dan Gedung Agung. Selain itu, di kawasan ini terdapat juga Monumen Serangan Umum Satu Maret yang menjadi monumen pengingat salah satu perjuangan bangsa Indonesia di masa lalu.

Dinamika Kota Yogyakarta

      Sebagai sebuah ruang publik, Kawasan Nol Kilometer bisa bercerita banyak tentang dinamika kota Yogyakarta. Jika Anda menyempatkan diri duduk sejenak di kursi-kursi beton di antara taman yang menghias kawasan ini, Anda akan segera menyadari nafas gerak kota Yogyakarta. Di kawasan ini, berbagai macam orang berkumpul. Siang maupun malam hari, wisatawan lalu lalang bercampur dengan teriakan para pedagang kaki lima. Anak-anak muda dan remaja yang suka nongkrong duduk berbarengan menikmati hasil-hasil karya seniman Yogyakarta. Di pelataran Monumen Serangan Umum Satu Maret, sering diadakan konser musik bagi para wisatawan. Rombongan pengamen berperalatan musik lengkap, dengan jenis musik yang merentang dari keroncong hingga jazz, bergantian menghibur wisatawan. Tak ketinggalan komunitas-komunitas warga Yogya, seperti komunitas sepeda onthel, komunitas fotografer, dan komunitas pemilik motor antik, ikut meramaikan suasana di Kawasan Nol Kilometer. Meskipun begitu, trotoar yang luas dan taman yang asri membuat kawasan ini tidak terkesan berantakan.

      Gedung-gedung berarsitektur kolonial yang megah dan terkesan klasik berhiaskan lalu lintas yang ramai dengan berbagai jenis kendaraan. Di bagian selatan perempatan Anda akan melihat alun-alun selatan yang luas dengan bangunan Kraton bersejarah di sisi selatan. Di sisi lain, Kraton Yogyakarta yang bercirikan budaya tradisional itu berseberangan lurus dengan wilayah Jalan Ahmad Yani dan Jalan Malioboro di sebelah utara perempatan yang selalu hiruk pikuk dengan kesibukan perdagangan modern.

      Sering mendengar sebutan Kota Pendidikan dan Kota Budaya bagi Yogyakarta? Berjalanlah lurus ke arah timur dari Kawasan Nol Kilometer menyusuri Jalan Senopati. Tak lama Anda akan menemukan sebuah kawasan Kompleks Taman Pintar yang berisikan Taman Pintar, sebuah taman baru yang menggabungkan permainan dan pendidikan, Shopping Center, pusat penjualan buku di Yogyakarta, dan Taman Budaya dengan Gedung Societet-nya, tempat seniman-seniman kota Yogya secara rutin menampilkan hasil kreasi seni mereka. Jika Anda memilih berjalan ke arah barat dari Kawasan Nol Kilometer, Anda akan sampai di bagian utara dari Kampung Kauman, sebuah kawasan perkampungan yang memiliki peran besar dalam sejarah Islam di Indonesia sebagai tempat lahirnya Muhammadiyah.

     Itulah wajah Kota Yogyakarta: yang tua, klasik, mapan dan matang dengan sejarah, berkelindan dengan yang muda, enerjik, ramai, dan modern. Di Kawasan Nol Kilometer inilah, sebenarnya, wisatawan bisa merasakan nuansa Yogyakarta masa kini.

Objek Wisata Pendidikan

      Objek wisata Kawasan Nol Kilometer mudah sekali dicapai sehingga nyaris tidak akan terlewatkan oleh setiap wisatawan yang datang ke Kota Yogyakarta. Kawasan ini terletak di ujung selatan jalan Jendral Ahmad Yani yang merupakan bagian dari Kawasan Malioboro (tidak banyak yang menyadari bahwa Kawasan Malioboro terdiri dari dua ruas jalan yaitu Jalan Malioboro di sebelah utara dan Jalan Jenderal Ahmad Yani di bagian selatan). Untuk transportasi, Anda bisa naik bus umum jalur 4 menuju Malioboro atau naiklah bus Trans Jogja ke arah yang sama.

      Di kawasan ini, wisatawan bisa banyak menggali sejarah bangsa atau pun hanya ingin menikmati bentuk arsitektur kolonial dari bangunan-bangunan yang ada di sekitar kawasan ini. Gedung Agung dan Benteng Vredeburg merupakan saksi-saksi bisu sejarah bangsa Indonesia. Sementara, deretan gedung Bank Indonesia, Kantor Pos Besar, dan Bank BNI, memberikan pemandangan arsitektur khas peninggalan masa kolonial di Indonesia.

      Pentas-pentas musik sering diadakan di pelataran Monumen Serangan Umum Satu Maret dan instalasi-instalasi karya seni biasanya dipajang di Kawasan Nol Kilometer jika ada perhelatan para seniman, semisal Biennale, diselenggarakan. Karya-karya seni ini bisa menjadi hiburan tersendiri yang mungkin jarang didapatkan di tempat wisata lain. Selain itu, wisata budaya, seni, sejarah, dan pendidikan lainnya juga terletak tak jauh dari kawasan ini, Anda bisa mencapai tempat-tempat wisata seperti Taman Pintar, Taman Budaya, Kraton Yogyakarta, Museum Sonobudoyo, dan Kampung Kauman hanya dengan berjalan kaki dari kawasan Nol Kilometer. Ada begitu banyak hotel dan penginapan dengan berbagai tarif di sekitar kawasan ini sehingga Anda tidak perlu risau soal akomodasi.
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Alun-alun Selatan Yogyakarta

 Unknown     9:17 AM     Kota     No comments   


    Kindahan wisata merupakan salah satu ciri yang juga menjadi identitas bagi pusat-pusat kota lama di Pulau Jawa adalah adanya alun-alun pada pusat kota tersebut. Alun-alun di Pulau Jawa ini berupa sebuah lapangan luas yang dikelilingi oleh pohon beringin di tengahnya. Salah satunya yaitu Alun-alun yang berada di Kota Yogyakarta.

    Di masa kerajaan Mataram, Alun-alun Kidul berfungsi untuk menyiapkan suatu kondisi yang menunjang kelancaran hubungan antara keraton dengan dunia luar. Alun-alun Kidul juga melambangkan kesatuan kekuasaan yang sakral antara raja dan para bangsawan yang tinggal di sekitar alun-alun. Sedangkan Alun-alun Lor berfungsi untuk menyediakan persyaratan bagi berlangsungnya kekuasaan raja.

    Alun-alun Kidul ini merupakan bagian belakang Keraton Yogyakarta. Menurut sejarahnya, alun-alun Kidul dibuat untuk mengubah suasana bagian belakang keraton menjadi seperti bagian depan karenaGunung Merapi, Keraton Yogyakarta, dan laut Selatan Pulau Jawa jika ditarik dalam satu garis imajiner akan membentuk satu garis lurus. Agar posisi Keraton Yogyakarta tidak seperti membelakangi laut Selatan, maka dibangunlah Alun-alun Selatan.

    Masih di dalam kompleks Alun-alun Kidul, terdapat bangunan Sasana Hinggil yang pada zaman dahulu menjadi tempat bagi raja untuk menyaksikan adu manusia dengan harimau yang disebut rampog macan, tetapi saat ini berubah fungsi menjadi tempat pertunjukan seni.


Alun-alun Kidul (Selatan) saat ini

Alun-alun Kidul yang biasa disingkat Alkid atau dalam Bahasa Indonesia berarti Alun-alun Selatan, merupakan wilayah bagian selatan dari Kraton Yogyakarta. Saat ini Alkid menjadi sebuah ruang publik bagi masyarakat. Berbagai macam kegiatan dapat dijumpai di Alkid. Menjelang sore hingga malam hari, Alkid menjelma sebuah tempat rekreasi rakyat yang tentunya sayang untuk dilewatkan.

Berbagai penjual makanan dapat dijumpai di Alkid. Selain itu, pada malam hari kawasan Alkid ini juga menjadi wisata bersepeda. Berjajar sepeda tandem hingga becak yang telah dimodifikasi sedemikian rupa dengan hiasan lampu yang mencolok disewakan oleh sejumlah pemilik sewa sepeda. Alkid juga menjadi area olahraga yang diminati oleh masyarakat Yogyakarta.

Pada bagian tengah alun-alun terdapat dua buah pohon beringin yang usianya cukup tua dan keduanya dibatasi oleh pagar benteng yang kokoh. Pohon Beringin ini pun menjadi sebuah obyek permainan yang menarik. Berawal dari kepercayaan masyarakat Yogyakarta tentang orang yang berhasil melewati kedua Pohon Beringin tersebut dengan menutup mata, maka akan dipermudah dalam meraih cita-citanya, maka saat ini banyak wisatawan yang menyempatkan waktu untuk berkunjung mencoba permainan tersebut.

Terdapat kandang gajah di Alun-alun Kidul. Gajah yang berada di dalam kandang ini adalah milik Kraton Yogyakarta. Dahulu gajah ini sering dinaiki oleh anak-anak sebagai sarana hiburan. Tetapi saat ini hiburan ini memang sudah berkurang walaupun istilah kandang gajah masih cukup familiar di telinga masyarakat.

Letak Alun-alun Kidul yang berada di wilayah selatan Kraton Yogyakarta memudahkan wisatawan untuk berkunjung. Anda hanya perlu menemukan Kraton Yogyakarta dan mengikuti jalan ke arah selatan, maka anda akan langsung menemukan alun-alun Selatan Yogyakarta.
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Resor Kaliurang

 Unknown     7:36 AM     Kota     No comments   


Resor Kaliurang menawarkan bukan hanya pemandangan hijau yang indah tapi juga udara yang sejuk. Jika Anda ingin melarikan diri dari keramaian kota dan kesibukan Anda sehari-hari, tempat inilah yang paling tepat. Berada di sebelah selatan lereng gunung Merapi, dan berjarak sekitar 28 kilometer dari Yogyakarta. Resor ini berada di dataran tinggi dengan ketinggian 900 meter di atas permukaan laut. Merasakan udara sejuk menyentuh kulit Anda merupakan salah satu hal yang bisa Anda dapatkan di resor ini selain bersantai, berenang dan jalan-jalan. Kenyamanan inilah yang akan membuat Anda betah berlama-lama tinggal di tempat yang mengingatkan kita akan lukisan alam di buku gambar sewaktu kita kecil dulu.


Di area resor kaliurang terdapat Taman Rekreasi Kaliurang, ke arah timur tedapat Taman Wisata Plawangan Turgo, sejumlah monyet yang berloncatan dari dahan pohon yang satu ke yang lain, kicau burung yang riang dan tangga berundak-undak. Untuk mendapatkan semua ini sebaiknya Anda menyusuri setiap sisi resor Kaliurang yang menakjubkan.
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Friday, November 7, 2014

Keraton Yogyakarta

 Unknown     5:43 PM     Kota     No comments   


      Istanah budaya Keraton Yogyakarta (Jogja) atau sering disebut dengan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat terletak di jantung provinsi Daerah Istimewa Yogjakarta (DIY), Indonesia. Karena tempatnya berada di tengah-tengah Jogja, dimana ketika di ambil garis lurus antara Gunung Merapi dan Laut Kidul, maka Keraton menjadi pusat dari keduanya. Keraton atau Kraton Jogja merupakan kerajaan terakhir dari semua kerajaan yang pernah berjaya di tanah jawa. Ketika kerajaan hindu-budha berakhir kemudian di teruskan dengan kerajaan islam pertama di Demak, lalu berdiri kerajaan yang lain seperti Mataram islam yang di dirikan oleh Sultan Agung lalu berjalan dan muncul Keraton Jogja yang didirikan oleh Sultan Hamengku Bowono I. Hingga sekarang, keraton Jogja masih menyimpan kebudayaan yang sangat mengagumkan.


Taman Depan Keraton Jogjakarta

     Dalam perkembangannya, Keraton Jogja banyak mengalami masa pasang surut kepemimpinan dan terjadi perpecahan. Yang paling terkenal adalah perjanjian Giyanti pada tahun 1755, dimana kerajaan dibagi menjadi 2 (dua) yaitu wilayah timur yang sekarang menjadi keraton surakarta (solo – petualangan selanjutnya ) dan wilayah barat yang disebut dengan Keraton Jogjakarta. Namun, Keraton Jogja juga banyak menyimpan sejarah yang tak bisa dilupakan begitu saja oleh bangsa Indonesia, termasuk dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Cukup banyak untuk di kaji dan ditulis.


Keraton Jogjakarta

     Selain itu, Keraton Jogja sangat kental dengan warisan budaya etnik jawa yang sangat menajubkan yang masih bisa di temukan di sekitar dan dalam keraton sendiri. Ketika Petualang ke Keraton Jogja maka, itulah gambaran sederhana tentang budaya dan keindahan tanah jawa. Semua hampir terwakilkan dalam satu tempat yang menarik dan sangat memukau. Bagaimana tidak, di Keraton masih banyak menyimpan tentang berbagai kesenian, hasil budaya, ragam pakaian adat dan bentuk rumah ala jawa yang indah. Tidak berhenti disitu saja, di Keraton Jogja juga mempertunjukkan bagaimana supelnya orang jawa dalam berkomunikasi dan bersapa dengan semua orang yang datang disana. Sangat eksotis dan menarik.
Keraton Jogja
      Untuk menuju Keraton Jogja sangat mudah, karena letaknya persis di pusat kota Jogjakarta. Walaupun begitu, Petualang juga harus cekatan dan bisa menghafal rute yang bisa di lewati untuk menuju Keraton Jogja. Untuk Petualang yang melaju dari Semarang atau Wonosobo (kretek – langsung ke ring road barat) silakan melewati rute :  Ungaran- Ambarawa - Magelang – Jl magelang jogja – Terminal Jombor – Jl Diponegoro (Tugu Jogja belok kanan) – Jl Mangkubumi – Jl Malioboro – Jl Ahmad Yani – Jalan Senopati – Jl Brigjend Katamso – Jl Ibu Roswo – Jl William – Jl Kesatriyan – Keraton Jogja. Untuk yang dari Solo atau Klaten atau Kebumen juga hampir sama hanya berbeda cara rute masuk dalam kota saja. Tidak usah pusing, karena plang jalan di Jogjakarta sangat membantu menemukan Keraton Jogja.


Keraton Jogjakarta

      Tiket masuk ke Keraton Jogja sangat terjangkau, hanya menyisihkan uang sekitar Rp. 10.000,- bisa menikmati hampir semua lingkungan istana yang berdiri megah dan indah. Petualang di haruskan untuk tidak memakai topi atau kaca mata bila masuk ke lingkungan keraton, bukan apa-apa hanya untuk menghormati kebudayaan jawa. Jam berkunjung ke Keraton untuk hari Ahad dan hari lainnya di batasi dari jam 07 am – 12 am. Tips : Silakan untuk datang ke Keraton Jogja sekitar jam 9, karena ada pementasan tari khas jawa seperti Serimpi yang dilakukan secara apik dan menajubkan.


Pagelaran Tari di Keraton Jogja

     Istana Jogja, sebagai representasi dari budaya jawa bisa ditemukan ketika Petualang masuk ke dalam Keraton, seperti pergelaran tari-tari jawa tentang berbagai cerita (babad tanah jawa, epic ramayana) yang dipentaskan oleh penari yang handal dan mampu memukau menarik penonton seperti terbawa suasana sakral yang sangat menghipnotis. Di iringi suara gemelan yang mengalun indah bercampur dengan bait-bait jawa dilantunkan indah oleh pesinden dan warangono Keraton Jogja. Selain tari, juga disajikan pentas wayang orang yang sangat menarik untuk di lihat, wayang orang ini berbeda dengan kebanyakan karena gerakannya hampir mirip dengan gerakan ballet. Pementasan tari jawa tersebut dilakukan di tempat terbuka mirip dengan pendopo Keraton, jadi petualang bebas leluasa menyaksikan dari berbagai sudut. Kesempurnaan dari sebuah budaya jawa, tarian yang indah layak untuk dilihat.


Taman Istana Keraton Jogja

      Melihat sudut Keraton yang lain seperti Kedhaton, dimana kedhaton ini merupakan tempat bertemunya Raja dengan semua pemangku Keraton. Dengan suasana bangunan joglo yang indah dengan beberapa ornamen ala jawa arab yang menghiasi di setiap tembok dan pilar, juga berbagai macam tanaman rindang menambah suasana sakral jawa lebih sejuk dan menarik. Pilar-pilar yang berjajar sedemikian rupa menambah gagah dan kuatnya Keraton Jogja waktu itu. Beberapa bangunan taman juga menghiasi setiap sudut komplek Kedhaton Keraton Jogja. Ada yang menarik dikomplek Kedhaton tersebut, ketika Petualang masuk pintu area Karaton maka akan selalu bertemu dengan para penjaga (pekerja khusus) Keraton atau yang biasa di sebut dengan Abdi Dalem.

      Abdi Dalem tersebut tidak boleh atau dilarang untuk mungkur (ina : membelakangi Kedhaton). Jadi sang Abdi Dalem akan selalu menghadap ke arah Kedhaton, bukan membelakangi kedhaton. Ketika Penulis tanya alasanya, maka dengan bahasa jawa khas dan menarik secara ringkas sang Abdi dalem mengatakan bahwa Kedhaton merupakan simbol Raja, disana tempat Raja duduk dan begitulah salah satu cara untuk menghormati kepada Raja. Menarik sekali bukan?


Abdi dalam dan wisatawan
     Didalam Keraton juga disajikan berbagai budaya jawa yang indah seperti batik yang merupakan warisan budaya jawa yang sudah diakui secara internasional. Beberapa lukisan, keris, foto raja-raja jawa, silsilah raja jawa, dan berbagai hasil budaya jawa. Ketika masuk di rumah batik, disana dilarang untuk memotret. Karena semua motif batik disana merupakan ciri Keraton Jogja yang merupakan simbol dari istana jawa yang hanya boleh dicetak dan dipakai di lingkungan istana saja. Beragam motif batik istana sangat menarik memang, desain yang khas dan berbeda dengan kebanyakan batik.


Museum Keraton Jogja

     Beberapa alat gamelan juga ditampilkan di Istana Jogja, gamelan berasal dari kata gamel yang berarti memukul. Gamelan sendiri merupakan alat musik khas jawa dimana permainan musik ini dilakukan dengan mengunakan alat seperti kenong, kempul, kendhang, gong, suling, kecapi dan lain sebagainya. Gamelan sendiri dimainkan bersama penyanyi yang disebut dengan Sinden (perempuan) atau Warangono (lelaki) seperti yang di pentaskan ketika masuk ke komplek Istana Jogja dimuka. Ketika memasuki ruang lukisan, banyak dijumpai lukisan bersejarah seperti raja-raja jogja, istri dan anak-anak raja jogja, lukisan tentang kemerdekaan, dan berbagai macam pengambaran tentang keraton. Jika Petualang masuk ke area lukisan jangan lupa untuk masuk ke lukisan yang sakral dan penuh misteri, begitu kata abdi dalem. Lukisan tersebut hanya ada beberapa saja, di tempatkan tersendiri.


Taman

      Misterinya adalah ketika petualang melihat lukisan raja jawa tersebut, maka lihat sepatu slop yang dipakai sang raja, ketika Petualang berada di sebelah kiri lukisan maka sepatu tersebut akan mengarah ke arah petualang. Nah, cobalah untuk berjalan ke sebelah kanan sambil melihat arah sepatu Raja tersebut, ajaib memang, sepatu itu seolah-olah mengikuti kemana Petualang melangkah. Dari sudut manapun melihat, sepatu tersebut selalu mengarah kemanapun ke arah orang yang melihat.

      Keraton Jogja sendiri sangat sejuk dan nyaman, jadi Petualang ndak usah takut apabila lelah dan capek. Karena rindangnya pepohonan dan kursi gazebo tersedia disana untuk duduk-duduk dan bersantai sejenak ketika habis berjalan disekitar Istana. Keraton Jogja, budaya dan keindahan jawa ada disana. Jadi, jadwalkan kesana apabila Petualang berada di Jogjakarta
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Taman Pintar

 Unknown     5:14 PM     Kota     No comments   

Taman pintar Yogyakarta

       Taman Pintar merupakan gagasan pemerintah kotaYogyakarta untuk memfasilitasi besarnya minat masyarakat terhadap ilmu pengetahuan. Gelar Kota Pelajar sedikit banyak mempengaruhi pendirian tempat wisata dan belajar Taman Pintar Yogyakarta ini.

     Dengan segementasi utama pelajar pra-sekolah hingga sekolah menengah bisa dengan leluasa mendalami pelajaran sains di sekolah melalui pengamatan langsung. Secara sederhana, Taman Pintar adalah laboratorium dengan kemasan rekreasi.
Target utama pembangunan Taman Pintar adalah mendukung program pembelajaran regular di sekolah sejak dini dengan mengasah kreativitas anak didik sedini mungkin dengan harapan akan semakin banyak innovator teknologi yang muncul dari Indonesia.


     Lokasi Taman Pintar sangat strategis dan nyaman untuk dikunjungi kapan saja.Bangunan Taman Pintar dibangun di kawasan bekas pusat perbelanjaan (shopping center). Dengan penataan seperti ini dengan pertimbangan adanya keterkaitan yang erat antara Taman Pintar dengan fungsi dan kegiatan bangunan yang ada di sekitarnya, seperti Taman Budaya, Benteng Vredeburg, Societiet Militer dan Gedung Agung.
Relokasi area dimulai pada tahun 2004 dengan beberapa tahap pembangunan. Setelah semua tahap selesai, peresmian besar-besaran (Grand Opening) digelar pada 16 Desember 2008 oleh presiden RI Soesilo Bambang Yudhoyono.

       Salah satu tempat rekreasi sekaligus wahana bermain anak yang cukup terkenal di Jogja adalah Taman Pintar. Di tempat ini tersedia berbagai macam obyek dan sarana bermain anak yang sangat edukatif. Diantaranya play ground atau (arena permainan anak), Gedung Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), serta Gedung Oval yang menyajikan akuarium air tawar dan replika hewan prasejarah.
Di Taman Pintar juga ada Gedung Kotak yang berisi Radio Anak Jogja, Zona Jembatan Sains, Zona Teknologi Pengolahan Pangan, perpustakaan, laboratorium sains, dan teater empat dimensi. Begitu juga dengan Gedung Memorabilia yang menyajikan sejarah Kesultanan Jogja, sejarah tokoh pendidikan nasional, dan sejarah presiden RI.

     Belum lama ini, Taman Pintar mendapatkan sarana baru yang makin melengkapi fasilitas yang ada. Sarana baru itu bernama “Zona Air untuk Kehidupan”. Wahana canggih ini terbilang unik.
Sebagian besar air yang ada di wahana berukuran 17,5 x 6,4 meter itu merupakan air virtual alias gambar. Begitu pengunjung memasuki wahana unik itu, mereka disambut akuarium virtual yang terpasang di lantai. Walau virtual, akuarium itu tampak seperti sungguhan. Gambar ikan bisa ’’lari’’ bila diinjak. Di wahana baru ini juga ada permainan skema siklus air pada layar sentuh. Caranya dilakukan dengan menyusun awan virtual yang tersebar, membentuk komposisi piramid. Selain itu juga ada diorama siklus air, skema miniatur pembentukan lapisan aquifer, pojok hidrogeologis, akuarium virtual, dan permainan berbentuk virtual touch screen (layar sentuh). Pendek kata, berbagai informasi tentang air sebagai sumber kehidupan terdapat di sini.


Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Thursday, November 6, 2014

Bukit Bintang

 Unknown     9:26 AM     Kota     1 comment   

      Inilah salah satu tempat wisata di kota Yogyakarta yang patut Anda kunjungi adalah Bukit Bintang. Mengapa dinamakan Bukit Bintang? Pasalnya dari sini kita bisa memandang keindahan malam atau siang hari kota Jogja yang berkerlap-kerlip seperti bintang pada malamnya.
Bukit Bintang Yogyakarta

      Kerlap kerlip ini merupakan pancaran lampu dari rumah-rumah yang ada di wilayah Kota  Yogyakarta. Lokasinya Bukit Bintang berada di daerah perbukitan Pathuk, Gunungkidul. Keberadaan bukit bintang jogja yang begitu sejuk, membuat suasana malam terasa indah.

     Bukit bintang ini menjadi salah satu tempat favorit para remaja dan juga keluarga untuk menghabiskan waktu malam. Bukit bintang terkadang menjadi destinasi yang paling banyak dituju bagi para muda dan mudi yang sedang memadu kasih atau bagi para pasangan muda yang baru saja membina rumah tangga.

     Beberapa penduduk desa memanfaatkan bukit bintang untuk berwirausaha dan membuka lapangan pekerjaan. Usaha yang bergerak di bidang kuliner mendominasi di wilayah ini. Sepanjang bukit bintang banyak rumah-rumah makan yang menyajikan makanan yang berbeda dari rumah makan satu ke rumah makan lainnya.

     Dan disetiap rumah makan terkadang memiliki makanan khas masing-masing. Bukan hanya rumah makan saja, tetapi para pedagang makanan emperan pun seperti pedagang kaki lima ramai di sepanjang jalan bukit bintang. Para pedagang yang semacam itu menjual makanan seperti jagung bakar, roti bakar, dan pisang bakar.



    Berbeda dengan rumah-rumah makan yang ada, disini menjual makanan mulai dari makanan ringan hingga makanan berat. Untuk masalah harga bervariasi. Ada harga yang mulai dari kelas bawah, harga menengah, harga standar hingga harga kelas atas. Jadi bagi semua kalangaan bisa menyesuaikan keadaan kantong mereka masing-masing.

      Di kawasan ini juga telah banyak hotel yang tersedia untuk tempat menginap. Anda bisa menghabiskan waktu lebih lama di tempat wisata bukit bintang jogja ini. Jika anda ingin menikmati malam di bukit bintang jogja saat weekend, sebaiknya anda datang lebih sore karena dipastikan tempat ini penuh akan pengunjung. Selamat mencoba.
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Thursday, October 30, 2014

Monumen Jogja Kembali

 Unknown     6:35 AM     Kota     No comments   


       Monumen Jogja Kembali merupakan ikon tempat wisata diYogyakarta selain Keraton Yogyakarta. Monjali mulai dibangun pada 29 Juni 1985.
Mengunjungi Monumen Jogja Kembali seperti kita sednag mengulang kembali pelajasarn sejarahdi bangku SD, SMP, hingga SMA. Monjali merupakan monumen yang sengaja dibangun untuk memperingati perebutan kembali Kota Yogyakarta setelah Belanda kembali menjajah Indonesia pasca 1945. Perebutan kembali Yogyakarta ke pangkuan ibu pertiwi ini menunjukkan bahwa Indonesia benar-benar berdaulat dan tidak mau dijajah. Praktis, penjajanh Belanda kalah sebagai pecundang dan Yogya kembali ke Indonesia. Oleh karenanya dinamakan Monumen Jogja Kembali.


Melihat sisi historinya, monjali memiliki kemiripan dengan Museum Gedung Juang 45 di Jakarta.Gedung Juang 45 menceritakan perjuangan Indonesia untuk membuktikan eksistensi di mata dunia antara tahun 1945-1950. Gedung Juang 45 menjadi tempatawisata sejarah museum di Jakarta.
Tak kurang dari 1000 koleksi diorama yang mengisahkan Serangan Umum 1 Maret 1949. Bangunan Monjali tampak unik. Saat menyusuri Ring Road Utara, dari kejauhan sudah tampak bangunan berbentuk tumpeng berwarna putih dengan tinggi sekitar 32 meter. Itulah Monumen Jogja Kembali. Di bagian luar monumen sebelum pintu masuk, terdapat dua buah pesawat yang digunakan dalam pembebasan Yogyakarta, pesawat Curen. Ada juga meriam bergerak dipajang disana.


     Monjali dibangun diatas lahan seluas 5,6 hektar. Sebagaimana filosofi jawa kuno, Monjali didesain dengan empat pintu masuk sesuai arah mata angin.Pintu barat dan timur menuju museum di lantai satu. Pintu utara dan selatan menuju musuem di lantai dua. Museum di lantai dua berisi relief dan diorama. Monumen Jogja Kembali berlantai tiga. Satu lantai teratas adalah ruang hening yang hanya berisi Bendera Merah Putih perlambang Indonesia dan sekaligus menghayati perjuangan yang tergambar di lantai satu dan dua. Dan jika ditarik garis lurus dari udara, Monnjali berada pada garis lurus antara lokasi Keraton Yogyakarta, Tugu Yogyakarta,dan Gunung Merapi.

      Monumen Jogja kembali merupakan tempat wisata dengan nuansa edukasi dan heroik. Heroik karena di sana bisa ditemukan benda bersejarah seperti dokar dan tandu Jendral Soedirman, jas Sultan Hamengku Buwono IX,hingga diorama dapur umum para pejuang.Sisi edukasinya sangat cocok untuk mengenalkan langsung para pelajar dalam mengenang jasa dan pengorbanan pahlawan terdahulu. Dengan ini, mereka akan merasa malu jika kelak menjadi koruptor, pengemplang pajak, tidak taat beribadah, dan berbagai perilaku merusak negara lainnya.
Tentang taat beribadah, banyak pahlawan pejuang kemerdekaan yang merupakan santri dan ulama. Mereka tidak akan takut mati jika landasanbrperang bukan karena Jihad Fii Sabilillah. Jendral Soedirman adalah seorang ulama kharismatik dan masih mengalir darah Muhammadiyah pada diri beliau.

        Monumen Jogja Kembali terletak di Jalan Lingkar Utara (RIng Road Utara), di Kelurahan Jongkang, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman. Dengan posisi yang strategis ini, Monjali bisa diakses dari manapun baik dengan kendaraan umum atau kendaraan pribadi.
Ada petikan kalimat Jendral Soedirman yang menggetarkan jiwa dan dipajang dalam sebuah figura sederhana di Monjali. Jendral Soedirman berpesan, “Dalam menghadapi keadaan apapun, jangan lengah sebab kelengahan menimbulkan kelemahan dan kelemahan menimbulkan kekalahan sedang kekalahan menimbulkan penderitaan”.
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Wednesday, October 29, 2014

Taman Sari

 Unknown     7:51 PM     Kota     No comments   

Taman Sari Yogyakarta


Taman sari yogyakarta | Umbul Pasiraman
Taman Sari Jogja atau Taman Sari Yogyakarta atau Taman Sari Water Castle adalah salah satu obyek wisata sejarah di Yogyakarta yang sangat terkenal dan sangat banyak dikunjungi oleh wisatawan baik wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara.

Bentuk arsitekturnya yang sangat unik membuat situs sejarah yang juga disebut sebagai Istana Air Taman Sari Jogja Yogyakarta ini juga menjadi cagar budaya di Yogyakarta.

Hampir semua turis yang mengunjungi Yogyakarta bisa dipastikan tidak akan ketinggalan juga mengunjungi Taman Sari Jogja Yogyakarta ini. --Taman Sari Yogyakarta

Lokasi Taman Sari Jogja (Taman Sari Yogyakarta)

Taman Sari Jogja Yogyakarta terletak di pusat Kota yogyakarta tepatnya berada di dalam komplek Benteng Keraton Yongyakarta, persis di sebelah barat Keraton Yogyakarta. Dari alun-alun utara Keraton Yogyakarta tempat ini bisa dicapai hanya dengan berjalan kaki saja. Atau apabila hendak menggunakan alat transportasi umum juga telah tersedia bermacam alat angkutan umum seperti becak, andong, bus kota, dan lain sebagainya. Taman Sari membentang dari barat ke timur, dengan pintu utama dahulunya di sebelah barat.  --Taman Sari Yogyakarta

Apa itu Taman Sari Jogja (Taman Sari Yogyakarta)?

Mungkin ada sebagian dari anda yang belum pernah berkunjung ke Taman Sari Yogyakarta. Sebagai informasi, Taman Sari Jogja adalah sebuah bangunan yang pada awal dibangunnya pada tahun digunakan sebagai istana berupa taman sebagai tempat rekreasi bagi raja Yogyakarta beserta keluarganya.

Sejarah Singkat Taman Sari Jogja (Taman Sari Yogyakarta)

Taman Sari Jogja dibangun pada masa pemerintaha Sultan Hamengku Buwono I, antara tahun 1758 sampai dengan tahun 1765. Istana Air Taman Sari Yogyakarta dibangun dengan luas keseluruhan sekitar 10 hektar berupa 57 bangunan berupa taman, kamar, kolam pemandian, danau buatan, pulau terapung, tempat ibadah, jembatan gantung, kanal air, dan juga lorong bawah tanah. Taman Sari Jogja diyakini berdiri diatas Pesanggrahan Garjitawati yang konon adalah merupakan istana lama Keraton Yogyakarta. -- Sejarah Tamansari Yogyakarta.

Fungsi Taman Sari Jogja (Taman Sari Yogyakarta)

Pada masa lampau Taman Sari Jogja memiliki fungsi sebagai taman istana atau kebun istana tempat berekreasi raja beserta keluarganya. Namun berdasar beberapa penilitian terungkap bahwa sebenarnya selain berfungsi sebagai taman istana, namun Taman Sari Yogyakarta juga diyakini berfungsi sebagai benteng pertahanan terakhir raja dari musuh.

Hal ini sedikit banyak tampak pada bentuk bangunan yang tertutup rapat dikelilingi oleh tembok benteng yang tinggi. Dan juga tempat ini dahulunya dikelilingi oleh air yang danau buatan. Selain itu pula di sini terdapat beberapa bangunan dan juga lorong-lorong bawah tanah yang berada juga di bawah air. Lorong-lorong bawah tanah ini diyakini digunakan sebagai sarana untuk melarikan diri keluarga kerajaan apabila terdesak oleh serangan musuh.

Bangunan Taman Sari Jogja (Taman Sari Yogyakarta)


1. Pulo Kenongo
Pulo kenongo merupakan sebuah pulau buatandi Taman Sari Yogyakarta yang dilengkapi dengan bangunan berupa gedung yang memiliki 2 tingkat yang sering disebut sebagai “Gedung Kenongo”.

Gedung ini memiliki beberapa ruangan, dan dari ruangan yang paling atas kita bisa melihat seluruh wilayah Keraton Yogyakarta. Sehingga bangunan menara di Taman Sari Jogja ini juga bisa berfungsi sebagai menara pengawas. Dan karena dikelilingi oleh danau buatan, maka bangunan ini seakan mengapung di atas air.




2. Pulo Cemethi
Pulo Cemethi yang juga disebut sebagai “Pulo Panembung” ini berupa bangunan besar dengan dua lantai. Di tempat inilah konon Sultan sering bermeditasi. Pulo Cemethi ini terletak di sebelah selatan Pulo Kenongo, dan untuk mencapainya harus melalui sebuah terowongan bawah tanah.



3. Sumur Gumuling
Sumur Gumuling terletak tepat di sebelah barat Pulo Kenongo, dan pada jaman dahulu untuk mencapainya hanya bisa melalui sebuah terowongan bawah tanah. Sumur Gumuling ini berfungsi sebagai tempat ibadah Sultan di Taman Sari Jogja.
Bangunan di Taman Sari Yogyakarta ini mempunyai dua lantai berbentuk bundar seperti sumur raksasa, yang dilengkapi dengan ceruk untuk beribadah. Bagian tengah sumur adalah ruangan kosong, dan terdapat 4 buah undak-undakan kecil yang bertemu di tengah. Dan di bagian tengah pertemuan empat undakan itu terdapat sebuah undakan lagi yang menuju ke lantai dua.

4. Gedhong Gapura Hageng
Gedhong Gapura Hageng merupakan pintu gerbang utama Taman Sari Jogja Yogyakarta yang ada di ujung sebelah barat. Ini karena pada awalnya Istana Air Taman Sari ini menghadap ke barat. Walaupun sekarang pengunjung masuk melalui pintu utama di sebelah timur.
Gedhong Gapura Hageng memiliki ruangan dengan dua tingkat, dan dihiasi dengan relief yang menggambarkan angka tahun selesainya pembangunan Taman Sari Yogyakarta yaitu tahun 1765.

5. Gedhong Lopak-lopak
Gedhong Lopak-lopak sekarang sudah tidak ada lagi. Tempat ini dahulunya adalah sebuah bangunan menara tinggi dengan 2 lantainya. Namun saat ini di tempat ini kita hanya bisa menyaksikan 2 buah pot besar dengan reruntuhan pintu gerbang menuju “Umbul Pasiraman” atau “Umbul Binangun”.


6. Umbul Binangun atau Umbul Pasiraman
Umbul Pasiraman adalah sebuah taman pemandian bagi raja beserta keluarganya di komplek Taman Sari Yogyakarta. Umbul Binangun ini cukup besar dengan du buah pintu gerbang di sisi barat dan timur. Umbul Pasiraman terdiri dari 3 buah kolam pemandian yang diberi nama “Umbul Muncar”, “Blumbang Kuras”, dan “Umbul Binangun”.

Ketiga kolam di Taman Sari Yogyakarta ini dihiasi dengan air mancur berbentuk jamur. Di sekeliling kolam terdapat beberapa hiasan berupa pot-pot bunga besar. Umbul Binangun khusus dipakai oleh raja beserta istrinya.


Bagian utara Taman Sari Jogja berdiri sebuah bangunan yang konon digunakan sebagai tempat beristirahat dan tempat untuk berganti pakaian bagi para istri dan anak-anak. Sedangkan bangunan di bagian selatan adalah bangunan yang khusus untuk Raja. Bangunan ini dilengkapi dengan menara 3 lantai yang digunakan raja untuk mengamati para putri maupun selirnya yang sedang berenang di bawah.

Konon Umbul Pasiraman ini adalah kolam pemandian yang khusus hanya digunakan oleh raja dan para wanita yaitu isteri, selir, dan anak-anak perempuan. Dan konon semua wanita yang akan berenang di kolam Taman Sari Yogyakarta diharuskan bertelanjang, oleh sebab itulah maka di tempat ini para lelaki dilarang masuk.



7. Gedhong Sekawan
Gedhong Sekawan berada di sebelah timur Umbul Pasiraman, berupa sebuah halaman dengan empat buah bangunan yang dahulunya digunakan untuk beristirahat sang raja.


8. Gedhong Gapuro Panggung
Gedhong Gapuro Panggung ini adalah bangunan gapura seperti Gedhong Gapuro Hageng, berada di sebelah timur Gedhong Sekawan. Gedhong Gapuro Panggung ini sekarang digunakan sebagai pintu masuk bagi para wisatawan menuju Taman Sari Yogyakarta.
Bangunan ini berupa gapura dengan dua tingkat yang juga dihiasi dengan relief ular yang menggambarkan tahun saat dibangunnya Taman Sari Jogja yaitu tahun 1758.


9. Gedhong Temanten
Gedhong Temanten terletak di sebelah timur Gedhong Gapuro Panggang, dan konon berfungsi sebagai tempat penjagaan.


Itulah beberapa bangunan yang ada di Taman Sari Jogja Yogyakarta yang diantaranya masih bertahan sampai dengan saat ini.


Bangunan Yang Sudah Hilang Di Taman Sari Jogja (Taman Sari Yogyakarta)

Sebenarnya masih ada banyak lagi bangunan yang ada di Taman Sari Jogja Yogyakarta ini. Namun kebanyakan sudah hancur dan tidak ada lagi bekasnya. Namun dari beberapa penelitian, terungkap bahwa ada beberapa bangunan lainnya yang sebenarnya ada di kompleks Taman Sari Yogyakarta ini, diantaranya :
•             Kompleks Pasarean Dalem Ledok Sari, yang digunakan sebagai tempat beristirahat raja dan permaisuri.
•             Kompleks Kolam Garjitawati
•             Dapur
•             Gudang
•             2 buah kolam bagi pelayan
•             Taman
•             Kebun sayuran
•             Jembatan gantung (masih sedikit tersisa)
•             Dermaga (masih sedikit tersisa)
•             Pulau buatan “Pulo Kinupeng”
•             Gedhong Gading (menara kota)
•             Kanal besar
•             Dan masih banyak bangunan lainnya di Taman Sari Jogja atau Taman Sari Yogyakarta ini.

Semoga dapat bermanfaat
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Tugu Yogyakarta

 Unknown     6:39 AM     Kota     No comments   

Tugu Jogja Daerah Istimewa Yogyakarta


           Tugu Jogja merupakan landmark Kota Yogyakarta yang paling terkenal. Monumen ini berada tepat di tengah perempatan Jalan Pangeran Mangkubumi, Jalan Jendral Soedirman, Jalan A.M Sangaji dan Jalan Diponegoro. Tugu Jogja yang berusia hampir 3 abad memiliki makna yang dalam sekaligus menyimpan beberapa rekaman sejarah kota Yogyakarta.
 Tugu Jogja kira-kira didirikan setahun setelah Kraton Yogyakarta berdiri. Pada saat awal berdirinya, bangunan ini secara tegas menggambarkan Manunggaling Kawula Gusti, semangat persatuan rakyat dan penguasa untuk melawan penjajahan. Semangat persatuan atau yang disebut golong gilig itu tergambar jelas pada bangunan tugu, tiangnya berbentuk gilig (silinder) dan puncaknya berbentuk golong (bulat), sehingga disebut Tugu Golong-Gilig

Tugu Yogyakarta

Secara rinci, bangunan Tugu Jogja saat awal dibangun berbentuk tiang silinder yang mengerucut ke atas. Bagian dasarnya berupa pagar yang melingkar sementara bagian puncaknya berbentuk bulat. Ketinggian bangunan tugu pada awalnya mencapai 25 meter.
Semuanya berubah pada tanggal 10 Juni 1867. Gempa yang mengguncang Yogyakarta saat itu membuat bangunan tugu runtuh. Bisa dikatakan, saat tugu runtuh ini merupakan keadaan transisi, sebelum makna persatuan benar-benar tak tercermin pada bangunan tugu.
Keadaan benar-benar berubah pada tahun 1889, saat pemerintah Belanda merenovasi bangunan tugu. Tugu dibuat dengan bentuk persegi dengan tiap sisi dihiasi semacam prasasti yang menunjukkan siapa saja yang terlibat dalam renovasi itu. Bagian puncak tugu tak lagi bulat, tetapi berbentuk kerucut yang runcing. Ketinggian bangunan juga menjadi lebih rendah, hanya setinggi 15 meter atau 10 meter lebih rendah dari bangunan semula. Sejak saat itu, tugu ini disebut juga sebagai De Witt Paal atau Tugu Pal Putih.

       Perombakan bangunan itu sebenarnya merupakan taktik Belanda untuk mengikis persatuan antara rakyat dan raja. Namun, melihat perjuangan rakyat dan raja di Yogyakarta yang berlangsung sesudahnya, bisa diketahui bahwa upaya itu tidak berhasil.
Bila anda ingin memandang Tugu Jogja sepuasnya sambil mengenang makna filosofisnya, tersedia bangku yang menghadap ke tugu di pojok Jl. Pangeran Mangkubumi. Pukul 05.00 - 06.00 pagi hari merupakan saat yang tepat, saat udara masih segar dan belum banyak kendaraan bermotor yang lalu lalang. Sesekali mungkin anda akan disapa dengan senyum ramah loper koran yang hendak menuju kantor sirkulasi harian Kedaulatan Rakyat.
Begitu identiknya Tugu Jogja dengan Kota Yogyakarta, membuat banyak mahasiswa perantau mengungkapkan rasa senangnya setelah dinyatakan lulus kuliah dengan memeluk atau mencium Tugu Jogja. Mungkin hal itu juga sebagai ungkapan sayang kepada Kota Yogyakarta yang akan segera ditinggalkannya, sekaligus ikrar bahwa suatu saat nanti ia pasti akan mengunjungi kota tercinta ini lagi.
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Tuesday, October 28, 2014

Malioboro

 Unknown     11:37 PM     Kota     No comments   

  Jl. Malioboro, Yogyakarta, Indonesia

Jl. Malioboro
Berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti karangan bunga, Malioboro menjadi kembang yang pesonanya mampu menarik wisatawan. Tak hanya sarat kisah dan kenangan, Malioboro juga menjadi surga cinderamata di jantung Kota Jogja.
Matahari bersinar terik saat ribuan orang berdesak-desakan di sepanjang Jalan Malioboro. Mereka tidak hanya berdiri di trotoar namun meluber hingga badan jalan. Suasana begitu gaduh dan riuh. Tawa yang membuncah, jerit klakson mobil, alunan gamelan kaset, hingga teriakan pedagang yang menjajakan makanan dan mainan anak-anak berbaur menjadi satu. Setelah menunggu berjam-jam, akhirnya rombongan kirab yang ditunggu pun muncul. Diawali oleh Bregada Prajurit Lombok Abang, iring-iringan kereta kencana mulai berjalan pelan. Kilatan blitz kamera dan gemuruh tepuk tangan menyambut saat pasangan pengantin lewat. Semua berdesakan ingin menyakasikan pasangan GKR Bendara dan KPH Yudhanegara yang terus melambaikan tangan dan menebarkan senyum ramah.

Menikmati pengalaman berbelanja, berburu cinderamata khas Jogja, wisatawan bisa berjalan kaki sepanjang bahu jalan yang berkoridor (arcade). Di sini akan ditemui banyak pedagang kaki lima yang menggelar dagangannya. Mulai dari produk kerajinan lokal seperti batik, hiasan rotan, wayang kulit, kerajinan bambu (gantungan kunci, lampu hias dan lain sebagainya) juga blangkon (topi khas Jawa/Jogja) serta barang-barang perak, hingga pedagang yang menjual pernak pernik umum yang banyak ditemui di tempat perdagangan lain.
Itulah pemandangan yang terlihat saat rombongan kirab pawiwahan ageng putri bungsu Sultan Hamengku Buwono X lewat dari Keraton Yogyakarta menuju Bangsal Kepatihan. Ribuan orang berjejalan memenuhi Jalan Malioboro yang membentang dari utara ke selatan. Dalam bahasa Sansekerta, malioboro berarti jalan karangan bunga karena pada zaman dulu ketika Keraton mengadakan acara, jalan sepanjang 1 km ini akan dipenuhi karangan bunga. Meski waktu terus bergulir dan jaman telah berubah, posisi Malioboro sebagai jalan utama tempat dilangsungkannya aneka kirab dan perayaan tidak pernah berubah. Hingga saat ini Malioboro, Benteng Vredeburg, dan Titik Nol masih menjadi tempat dilangsungkannya beragam karnaval mulai dari gelaran Jogja Java Carnival, Pekan Budaya Tionghoa, Festival Kesenian Yogyakarta, Karnaval Malioboro, dan masih banyak lainnya.
Sebelum berubah menjadi jalanan yang ramai, Malioboro hanyalah ruas jalan yang sepi dengan pohon asam tumbuh di kanan dan kirinya. Jalan ini hanya dilewati oleh masyarakat yang hendak ke Keraton atau kompleks kawasan Indische pertama di Jogja seperti Loji Besar (Benteng Vredeburg), Loji Kecil (kawasan di sebelah Gedung Agung), Loji Kebon (Gedung Agung), maupun Loji Setan (Kantor DPRD). Namun keberadaan Pasar Gede atau Pasar Beringharjo di sisi selatan serta adanya permukiman etnis Tionghoa di daerah Ketandan lambat laun mendongkrak perekonomian di kawasan tersebut. Kelompok Tionghoa menjadikan Malioboro sebagai kanal bisnisnya, sehingga kawasan perdagangan yang awalnya berpusat di Beringharjo dan Pecinan akhirnya meluas ke arah utara hingga Stasiun Tugu.
Melihat Malioboro yang berkembang pesat menjadi denyut nadi perdagangan dan pusat belanja, seorang kawan berujar bahwa Malioboro merupakan baby talk dari "mari yok borong". Di Malioboro Anda bisa memborong aneka barang yang diinginkan mulai dari pernik cantik, cinderamata unik, batik klasik, emas dan permata hingga peralatan rumah tangga. Bagi penggemar cinderamata, Malioboro menjadi surga perburuan yang asyik. Berjalan kaki di bahu jalan sambil menawar aneka barang yang dijual oleh pedagang kaki lima akan menjadi pengalaman tersendiri. Aneka cinderamata buatan lokal seperti batik, hiasan rotan, perak, kerajinan bambu, wayang kulit, blangkon, miniatur kendaraan tradisional, asesoris, hingga gantungan kunci semua bisa ditemukan dengan mudah. Jika pandai menawar, barang-barang tersebut bisa dibawa pulang dengan harga yang terbilang murah.
Selain menjadi pusat perdagangan, jalan yang merupakan bagian dari sumbu imajiner yang menghubungkan Pantai Parangtritis, Panggung Krapyak, Kraton Yogyakarta, Tugu, dan Gunung Merapi ini pernah menjadi sarang serta panggung pertunjukan para seniman Malioboro pimpinan Umbu Landu Paranggi. Dari mereka pulalah budaya duduk lesehan di trotoar dipopulerkan yang akhirnya mengakar dan sangat identik dengan Malioboro. Menikmati makan malam yang romantis di warung lesehan sembari mendengarkan pengamen jalanan mendendangkan lagu "Yogyakarta" milik Kla Project akan menjadi pengalaman yang sangat membekas di hati.
Malioboro adalah rangkaian sejarah, kisah, dan kenangan yang saling berkelindan di tiap benak orang yang pernah menyambanginya. Pesona jalan ini tak pernah pudar oleh jaman. Eksotisme Malioboro terus berpendar hingga kini dan menginspirasi banyak orang, serta memaksa mereka untuk terus kembali ke Yogyakarta. Seperti kalimat awal yang ada dalam sajak Melodia karya Umbu Landu Paranggi "Cintalah yang membuat diriku betah sesekali bertahan", kenangan dan kecintaan banyak orang terhadap Malioboro lah yang membuat ruas jalan ini terus bertahan hingga kini.
Keterangan: Karnaval dan acara yang berlangsung di Kawasan Malioboro biasanya bersifat insidental dengan waktu pelaksanaan yang tidak menentu. Namun ada beberapa kegiatan yang rutin diselenggarakan setiap tahun seperti Festival Kesenian Yogyakarta pada bulan Juni hingga Juli, serta Pekan Kebudayaan Tionghoa yang dilaksanakan berdekatan dengan perayaan tahun baru China (Imlek).
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Older Posts Home

Popular Posts

  • Candi Borobudur
    Candi Borobudur         Candi Borobudur merupakan satu-satunya candi budha terbesar di dunia sampai saat ini. Meskipun sekarang sudah...
  • Gunung Api Purba
    Indahnya Gunung Api Purba Yogyakarta        Gunung api purba Nglanggeran memang purba sekali dengan usia 60 juta tahun yang lokasiny...
  • Museum Panglima Besar Jenderal Sudirman
          Sejarah singkat Museum Panglima Besar Jenderal Sudirman terletak di Jalan Bintaran Wetan 3, Yogyakarta. Pada masa kolonial Belanda,...
  • Monumen Jogja Kembali
           Monumen Jogja Kembali merupakan ikon tempat wisata diYogyakarta selain Keraton Yogyakarta. Monjali mulai dibangun pada 29 Juni 19...
  • Taman Sari
    Taman Sari Yogyakarta Taman sari yogyakarta | Umbul Pasiraman Taman Sari Jogja atau Taman Sari Yogyakarta atau Taman Sari Wa...

Categories

  • Alam
  • History
  • HotelsYogyakarta
  • Jogja
  • Kota
  • Nature
  • Pantai
  • Sejarah

Blog Archive

  • May (6)
  • November (51)
  • October (7)

Total Pageviews

Labels

  • Alam
  • History
  • HotelsYogyakarta
  • Jogja
  • Kota
  • Nature
  • Pantai
  • Sejarah

Contributors

  • Unknown
  • Unknown

Followers

Sample Text

/*
*/

Copyright © Explore-Indonesia | Powered by Blogger
Design by Andy Sanjaya | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Distributed By Andy Sanjaya