Explore-Indonesia

  • Home
  • City
    • Jakarta
    • Yogyakarta
    • Bali
    • Jawa
    • Sumatera
    • Kalimantan
    • Sulawesi
    • Papua
  • Hotels
    • Jakarta
    • Yogyakarta
    • Bali
    • Jawa
    • Sumatera
    • Kalimantan
    • Sulawesi
    • Papua
  • Travel
    • Jakarta
    • Yogyakarta
    • Bali
    • Jawa
    • Sumatera
    • Kalimantan
    • Sulawesi
    • Papua
  • Nature
  • History
  • food beverage
  • other category

Sunday, November 16, 2014

Museum Sandi

 Unknown     11:35 PM     Sejarah     1 comment   


      Museum ini didirikan dengan tujuan untuk mengenang perjuangan bangsa Indonesiadalam melawan Penjajahan Belanda. Terletak di JL. Kol Sugiono 24 Yogyakarta dan diresmikan pada tahun 1961. bangunan museum sangat unik bernetuk Ronde Templeyang merypakan perpaduan arsitektur gayaromawi kuno dan timur. Yang secara simbolis mencerminkan tanggal kemerdekaan BangsaIndonesia 17 agustus 1945. Museum ini mengoleksi benda-benda sejarah perjuangan, seperti: relief, patung, foto dan mejakursi. Jumalh koleksi sekitar 200 buah tentang sejarah perjuangan bangsa indonesia dari tahun 1908-1949

MUSEUM SANDI
Museum Sandi merupakan museum khusus yang menampilkan berbagai jenis koleksi persandian bersejarah, yang berlokasi di dalam bangunan Museum Perjuangan Yogyakarta. Secara fisik, bangunan Museum Perjuangan berbentuk bulat, dengan garis tengah 30 m dan tinggi bangunan 17 m yang terdiri dari dua lantai. Koleksi Museum Sandi menempati areal lantai dasar bangunan, sedangkan lantai teratas bangunan untuk koleksi Museum Perjuangan Yogyakarta. Pada tampak luar, terdapat Sengkalan pada bangunan Museum Perjuangan yang berbunyi “Anggatra Pirantining Kusuma Negara”


KOLEKSI MUSEUM SANDI
Koleksi Museum Sandi menampilkan alur cerita persandian yang terbagi menjadi 4 (empat) segmen yaitu:
Sejarah kegiatan persandian, dalam lingkup sejarah Indonesia dan dunia, termasuk pada masa merebut dan mempertahankan Kemerdekaan RI.
Sejarah perkembangan ilmu persandian, dibagi menjadi 2 (dua) yaitu sistem kriptografi klasik, seperti Caesar Cipher, Alberti Disc, Cardan Grille, Vigenere dan lainnya dan sistem kriptografi modern, seperti algoritma DES, Pertukaran Kunci Diffie Hillman, RSA dan Rijndael (AES).
Sejarah peralatan sandi, meliputi peralatan-peralatan sandi karya mandiri (Indonesia) dan luar negeri yang pernah digunakan dalam sejarah kegiatan persandian.
Permainan kripto (cryptogame), yang akan menampilkan permainan menarik seputar sandi menyandi melalui teknologi audio visual.
Berbagai koleksi yang dipamerkan tersebut terdiri dari :
Barang asli atau replika berupa mesin/peralatan sandi, meubeler, tag, sepeda, patung/manekin, etalase (barang keseharian pelaku sejarah sandi), slide sistem dan system-sistem sandi lainnya dan sebagainya.
Dokumen berupa buku kode, lembaran kertas dan sebagainya.
Gambar-gambar berupa foto, peta (napak tilas sandi), lukisan (kegiatan sandi di perundingan) dan sebagainya.
Diorama berupa suasana di pedukuhan dukuh, kegiatan kurir sandi dan lainnya.
Teknologi Multimedia (TouchScreen)


FASILITAS MUSEUM SANDI
Museum Sandi menyediakan berbagai fasilitas, antara lain :
Pusat Informasi, di ruang ini pengunjung mendapat informasi (gambaran) awal tentang apa yang dapat dilihat dan lakukan di museum. Informasi yang tersedia antara lain alur cerita persandian, tayangan multimedia tentang museum, dan denah museum.
Ruang Pameran, merupakan ruangan yang disusun berurutan mengikuti pola alur pengisahan yang telah ditentukan. Ruang pamer ini merupakan bagian utama dan penting dari Museum Sandi. Ruang pamer ini dibagi menjadi beberapa counter yang dilengkapi fasilitas pameran yang bentuk, jenis dan materinya disesuaikan dengan tema cerita yang disajikan. Ruang pamer ini menyajikan tampilan yang relatif permanen.
Ruang/Counter Multimedia, untuk menayangkan film atau animasi yang berkaitan dengan kegiatan sandi atau ilmu sandi. Pada ruang ini juga disediakan suatu sarana permainan yaitu cryptogame bagi pengunjung.
Ruang Penyimpanan dan Perawatan Koleksi, yaitu ruang untuk menyimpan koleksi museum yang tidak di pamerkan dan sekaligus juga sebagai tempat untuk melakukan perawatan koleksi. Ruang ini didesain untuk kemudahan penyimpanan maupun pencarian koleksi dengan fasilitas rak-rak penyimpanan yang sistematis dan hemat ruang.
Ruang Pengelola/Administrasi Museum, dibutuhkan sebagai sarana penunjang penyelenggaraan museum


Museum Perjuangan Brontokusuman
Jl. Kolonel Sugiyono, No 24
Yogyakarta

Buka setiap hari Senin s/d Jum’at pukul 09.00 - 15.00
(Hari Sabtu dan Minggu libur)
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Kota Baru

 Unknown     11:19 PM     Kota     No comments   

       Kotabaru Yogyakarta Kawasan Bangunan Peninggalan Belanda
Ruas jalan yang relatif besar dengan area taman dan pohon-pohon besar dan tanaman buah yang banyak terdapat di ruas jalan ini menandakan bahwa Kotabaru di siapkan sebagai Garden City. Pembangunan wilayah Kotabaru ( dahulu disebut dengan Nieuwe Wijk ) sebagai daerah pemukiman Indische bagi orang Belanda karena perubahan sosial yang terjadi di wilayah Kotabaru Yogyakarta pada waktu itu. Sekitar tahun 1920 an perkembangan bidang industri gula dan meningkatnya ketertarikan terhadap pendidikan dan kesehatan membuat jumlah orang Belanda yang menetap di Yogyakarta semakin bertambah dan meningkat sehingga menuntut percepatan pembangunan hunian baru. Kotabaru merupakan wilayah pemukiman alternatif setelah kawasan Loji Kecil dengan fasilitas lengkap dengan tata kota yang menarik.

 

Kita tidak akan menemukan sebuah gang yang sempit bila menyusuri wilayah Kotabaru Yogyakarta seperti daerah-daerah lain di Yogyakarta. Perencanan wilayah ini berkonsep radial seperti yang diterapkan di kota Belanda sendiri pada umumnya. Sangat berbeda dengan wilayah dan dan tempat lain di kota Yogyakarta yang menganut sistem pola arah angin.

Kotabaru Yogyakarta di rancang sebagai kota yang mandiri dimana setiap bangunan yang berada di tempat tersebut memiliki aksesbilitas yang mudah dan cepat untuk dijangkau. Hal ini bisa dibuktikan dengan melihat model pembuatan jalan yang saling menghubungkan satu dengan yang lainnya.
Bangunan Kuno Peninggalan Belanda di Kotabaru

Sangat mudah kita temukan bangunan peninggalan Belanda di Kotabaru Yogyakarta karena sangat banyak tersebar di seluruh kawasan Kotabaru. Beberapa bangunan kuno yang menarik tersebut antara lain :
Gereja Santo Antonius Kotabaru : bangunan yang memiliki menara tinggi yang terletak di depan gereja, terdapat juga tiang-tiang yang besar terbuat dari semen cor sebanyak 16 buah serta plafon berbentuk sungkup. Gereja ini berdiri tahun 1926, awalnya bernama Gereja Santo Antonius Van Padua. Perubahan nama ini berawal dari tempat ibadah yang dulunya di rumah Mr. Pequin ( depan Masjid Syuhada ) yang banyak sehingga tempatnya tidak mencukupi.
Kantor Asuransi Jiwasraya : pada jaman Belanda merupakan rumah dari salah satu pegawai asuransi Nill Maatschappij. Kemudian pada masa pendudukan Jepang digunakan untuk tempat tinggal perwira tinggi angkatan bersenjata Jepang yang bernama : Butaico Mayor Otsuka. Setelah kekalahan Jepang melawan Sekutu, tempat ini digunakan untuk perundingan pelucutan senjata oleh Muhammad Saleh Bardosono dengan Butaico Mayor Otsuka pada tanggal 6 Oktober 1945.
SMU Bopkri 1 : pada jaman dahulu digunakan sebagai gedung Christelijke MULO dan Akademi Militer.
Gedung SMP 5 : bangunan ini dahulu digunakan untuk Normalschool.
Gedung SMAN 3 : dulu digunakan untuk AMS
Gedung Kolese Santo Ignatius : dahulu merupakan kantor Kementrian Pertahanan dan Kantor Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta yang selanjutnya digunakan untuk markas gerilya Pangsar Soedirman.
Gedung Bimo : bangunan besar dengan rancangan art deco yang berkembang pada tahun 1920-1930. Konsep art deco adalah rancang bangun yang mengutamakan unsur tradisional setempat dengan tetap menerima inovasi baru yang memungkinkan bangunan ini berbeda dengan bangunan yang lain.
Sederetan bangunan kuno yang lain juga dengan mudah kita temui seperti : gedung bekas Kementrian Luar Negeri di simpul jalan menuju jembatan Gondolayu, rumah Brigjen Katamso di sebelah timur Stadion Kridosono, bangunan yang sekarang digunakan sebagai kantor Dinas Pariwisata dan bangunan gardu listrik hasil karya Belanda pada waktu itu.

Sebagai bentuk penghargaan terhadap para pahlawan yang berjuang pada peristiwa Serangan Kotabaru tanggal 7 Oktober 1945, seluruh nama jalan di wilayah Kotabaru menggunakan nama-nama pahlawan tersebut.

Salah satu daya trik Kotabaru Yogyakarta yaitu terdapatnya Jembatan Kewek, yaitu jembatan penyeberangan yang melintasi Kali Code yang menghubungkan Stasiun Tugu dengan Kotabaru. Secara resmi namanya jembatan Kerkweg, tetapi orang jawa biasa menyebutnya Kreteg Kewek
Lokasi Kotabaru Yogyakarta

Kotabaru saat ini menjadi nama kelurahan yang terletak di Kecamatan Gondokusuman Daerah Istimewa Yogyakarta.
Akses menuju KotabaruYogyakarta

Kotabaru sangat mudah dijangkau, baik menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Dari Tugu Yogyakarta – ke arah selatan – Jalan Pangeran Mangkubumi – jalan menurun ambil jalur kiri ke arah Kotabaru. Sedangkan bila mengambil jalur kekanan menuju Malioboro.

Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Candi Morangan

 Unknown     8:23 AM     History     No comments   


 

      Selain Kabupaten Magelang yang merupakan rumah bagi situ candi, Kabupaten Sleman juga tak Kalah dengan Magelang, Puluhan candi terdapat di Kabupaten Sleman ini, dari yang belum dikenal wisatawan luas, sampai yang sudah terkenal luas oleh wisatawan dalam negeri dan wisatawan mancanegara, tentunya hal ini sangat menarik untuk diteliti, dipelajari dan dilihat kemegahan dan keunikan setiap candinya. Di Kabupaten Sleman ini anda bisa menemukan situ candi yang unik dan menawan” candi morangan”. Candi morangan terletak di Dusun Morangan,Desa Sindumartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Dicandi yang ditemukan sejak jaman penjajahan ini anda akan menemukan berbagai arca dan relief yang menarik untuk dilihat. Candi ini bisa anda jadikan tujuan wisata ataupun alternatif wisata anda saat berkunjung ke Yogyakarta, kepuasan untuk mengetahui lebih dalam situs candi di Indonesia akan anda dapatkan.

      Candi yang diperkirakan dibangun pada pada abad ke-9 dan ke-10 ini mempunyai peninggalan- peninggalan yang sangat menarik, disini anda bisa menemukan 2 reruntuhan candi yaitu candi induk dan candi perwara, selain itu berbagai arca dan relief juga bisa anda temukan. Candi induk dan candi perwara ini masih dalam proses penyusunan dan pemugaran, sedangkan untuk arca anda bisa menemukan, arca nandi yaitu merupakan kendaraan dewa siwa. Relief- relief yang sangat menarik seperti arca kala yang dikanan kiri wajahnya terdapat sebuah mahluk kecil membawa sebuah pentungan seperti melambangakan sebuah dwarapala yang merupakan mahluk penjaga gerbang. Relief- relief direruntuhan candi ini memang sangat menarik dan unik untuk dilihat, tidak akan kecewa jika anda berkunjung ke situs candi ini.

   Di situs candi morangan ini juga terdapat 3 yoni yang masih dalam kedaan bagus, yoni yang terdapat di candi ini merupakan gambaran bagaiman situs candi ini dulu dipergunakan sebagai tempat peribadatan umat hindhu. Selain candi morangan ini anda juga bisa datang dan berwisata di situs candi lainya yang berada di Kabupaten Sleman, seperti candi kalasan,candi ijo dan candi sambisari yang tak kalah menarik untuk dilihat dan diteliti sejarah dan kebudayaannya. Jadikan candi marongan sebagai tujuan wisata anda untuk menambah daftar situs candi yang pernah anda kunjungi.
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Candi Sojiwan

 Unknown     8:09 AM     Sejarah     No comments   


Candi sojiwan terletak di desa sojiwan, Kelurahan Kebon Dalem Kidul, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Propoinsi Jawa Tengah. Candi Sojiwan merupakan candi penginggalan dari Dinasti Mataram Kuna abad VIII-X Masehi. Candi tersebut didirikan sebagai bentuk penghormatan dari Raja Balitung kepada neneknya yaitu Nini Haji Rakryan Sajiwana. Candi sojiwan merupakan bangunan Budha, Candi ini berbentuk segi empat dan menghadap ke barat sesuai dengan ajaran agama Budha yang mempunyai keterkaitan kepada matahari sebagai sumber kehidupan ( Dewa Matahari). Bentuk bangunan dan relief pada candi Sojiwan mempunyai hubungan dengan dengan candi Plaosan, jadi bangunan tersebut berasal dari periode Jawa Tengah akhir dan diperkirakan didirikan pada pertengahan abad IX. Di kaki candi Sojiwan terdapat 16 panel yang berisi relief yang masih dapat dimengerti ceritany, sedangkan tiga panel lainnya sudah tidak pada tempatnya lagi. Pada relief tersebut memuat ajaran moral agama Budha dalam bentuk fabel (cerita binatang. Untuk memutari candi yang ditempuh adalah pradaksina ialah sikap yang selalu meletakkan candi pada sisi sebelah kanan kita.dan kita bisa mengitari candi pada sisi sebelah kiri kita disebut prasawya. Dalam candi sojiwan terdapat motif hias tumbuhan (sulur dan recal citrant), selain itu juga terdapat motif manusia dan binatang pada bagian candi. Di bagian pintu masuk dari barat terdapat Makara yang merupakan perpaduan antara binatang gajah, ikan, dan singa. Pada bagian gapura masuk terdapat Kala yang tidak memiliki rahang dan merupakan motif Kala bagian Jawa Tengah.
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Candi Ijo

 Unknown     8:01 AM     Sejarah     No comments   



      Candi Ijo dibangun kira-kira pada abad ke-9 pada masa Kerajaan Mataram Kuno . Candi ini merupakan akulturasi dari budaya Budha dan Hindu dilihat dari ornamen yang ditemukan di kuil .

Patung kala makara ( kala : raksasa ; makara : dragon ) di pintu masuk menandakan pengaruh Budha itu . Sementara keberadaan tiga candi anak menunjukkan penghormatan ke arah trimurti Dewa Hindu itu : Brahma , Wisnu dan Siwa .

Lokasi Candi Ijo
Secara administratif , Candi Ijo terletak di bukit Ijo , Nglengkong dusun , dusun Groyokan , Desa Sambirejo , Kecamatan Prambanan , Kabupaten Sleman , Yogyakarta . Hal ini di sisi selatan kompleks Istana Ratu Boko .

Apa yang harus Dilihat dan dilakukan
Terletak 410 meter di atas permukaan laut , pengunjung bisa menikmati pemandangan dari atas bukit Ijo. Timur laut adalah pemandangan kota Klaten sementara di selatan Anda bisa melihat tebing dan lembah hijau daerah Piyungan . Menghadap ke barat Anda akan menyaksikan pemandangan hijau lapangan dan Bandara Internasional Adisutjipto . Pemandangan Gunung Merapi dan Candi Prambanan juga dapat dilihat dari kompleks Candi Ijo .

Candi ini terdiri dari 17 konstruksi yang terletak di 11 teras . Candi utama terletak di titik tertinggi dari kompleks . Mereka berada di teras 11 bersama tiga candi perwara . Teras 11 ini adalah satu-satunya yang telah dipulihkan . Teras lainnya masih dalam proses pembangunan .

Di kompleks candi , wisatawan dapat menikmati keindahan relief peta yang ditampilkan di kuil dan keunikan patung-patung yang ditemukan di daerah tersebut . Dari pintu masuk Anda akan melihat kepala kembar kala makara dan atributnya . Di dalam kuil utama Anda akan menemukan ceruk di Utara, Selatan dan Tenggara dinding . Di tengah-tengah kuil adalah sebuah platform yoni dalam bentuk ular dan kura-kura kombinasi . Selain itu, Anda akan menemukan fungsi tempat sebagai tempat di mana korban kebakaran dilakukan di dalam salah satu kuil anak . Pengorbanan api menunjukkan bahwa candi adalah dedikasi untuk trimurti Hindu Brahma , Wisnu dan Siwa .

Tiket masuk Candi Ijo dan Informasi pengunjung
Tiket masuk Gratis
Candi ini dapat dikunjungi pada 7:30-15:00 WIB
Kenakan sepatu kets atau sepatu yang nyaman karena Anda akan mendaki bukit .
Membawa air atau makanan ringan dan sun block karena warung jarang ditemukan .

Cara ke Candi Ijo
Dengan transportasi umum : Ambil Transjogja rute 1A atau 1B dan berhenti di shelter Prambanan . Perjalanan ke kuil dapat dilanjutkan dengan mengambil ojek ( taksi motor ) ke selatan sampai Anda melihat tanda jalan yang menunjukkan arah ke kuil Ijo .

Dengan kendaraan pribadi : Berangkat dari pusat Kota Yogyakarta , kepala ke timur untuk rute ke Candi Prambanan . Sesampainya di persimpangan Prambanan atau pasar Prambanan , belok kanan di lampu lalu lintas . Terus lurus selama sekitar 15 menit sampai Anda menemukan tanda jalan yang menunjukkan arah ke kuil Ijo . Ikuti tanda jalan sampai Anda menemukan candi .
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Candi Plaosan

 Unknown     7:41 AM     Sejarah     No comments   


      Candi Plaosan sebenarnya merupakan kompleks candi . Candi Budha dibagi menjadi dua bagian , Plaosan Lor ( lor : utara ) dan Plaosan Kidul ( kidul : selatan ) . Hal ini diperkirakan dibangun pada awal abad ke-9 selama pemerintahan Rakai Pikatan .

      Argumen ini didukung oleh Sri Kahulunan prasasti tertanggal 842 AD yang menyatakan bahwa Plaosan Lor dibangun oleh Ratu Sri Kahulunan dengan dukungan dari suaminya . Diperkirakan bahwa Ratu Sri Kahulunan adalah Pramodhawardhani , putri Raja Samaratungga dari dinasti Syailendra . Dia menikah dengan Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya . Pramodhawardhani adalah Buddha sedangkan Rakai Pikatan adalah Hindu . Candi ini dikenal sebagai simbol cinta mereka .

Lokasi Candi Plaosan
Candi Plaosan terletak di Dusun Bugisan , Desa Prambanan , Kecamatan Klaten , Jawa Tengah . Sekitar 20 Km ke arah timur Yogyakarta atau 1,5 Km dari Candi Sewu .


      Apa yang harus dilihat & diLakukan kompleks Plaosan menempati 2.000 meter persegi tanah dan terletak 148 meter di atas permukaan laut . Mengunjungi candi , Anda akan dapat menikmati pemandangan sawah di kuil sekitarnya . Plaosan terdiri dari dua candi utama dikelilingi oleh dinding batu . Setiap dinding batu dikelilingi oleh total 174 candi perwara . Hampir semua candi perwara berupa reruntuhan . Di bagian barat dari dinding sekitarnya adalah gerbang batu dengan hiasan mahkota di atasnya .

      Candi utama diletakkan di atas platform 60 cm. Dihiasi dengan dekorasi yang indah diukir secara rinci . Tangga ke candi memiliki kepala naga ornamen pada pegangan nya . Dekorasi unik lainnya adalah kepala Kala ditempatkan di atas pintu masuk . Berbeda dengan hiasan Kala di Candi Barong , Kala di Plaosan tidak memiliki rahang bawah . Dinding luar dari dua candi dihiasi dengan relief berukuran hampir – manusia. Relief di dinding selatan digambarkan sosok laki-laki sedangkan bantuan di dinding utara menggambarkan sosok perempuan .

     Memasuki candi , candi dibagi menjadi enam kamar . Di ruang tengah tiga patung Buddha duduk berdampingan di panggung . Di dinding kiri dan kanan adalah ceruk yang digunakan sebagai tempat untuk lentera . Relung yang diukir dengan relief Kuwera dan Hariti .
Desain yang sama dapat ditemukan di Plaosan Kidul yang merupakan tempat relief Boddhisatva atau populer sebagai Bunda semua Buddha . Sekitar candi adalah sawah .

Tiket Candi Plaosan dan informasi pengunjung
Untuk memasuki candi saat ini gratis . Namun, pengunjung diharapkan untuk memberikan beberapa sumbangan yang nantinya akan digunakan untuk pemeliharaan candi .
Selain dari tiket masuk gratis , pengunjung diwajibkan untuk membayar biaya parkir .

Rute ke Candi Plaosan
Dengan transportasi umum : Naik bus dari Janti bahwa rute ke Yogya – Solo. Berhenti di lampu lalu lintas pertama setelah Candi Prambanan atau sekitar Km 18/19 . Lanjutkan dengan mengambil ojek ( taksi motor ) untuk sampai ke kuil .

Dengan kendaraan pribadi : Mengemudi dari Yogyakarta , kepala timur untuk rute Candi Prambanan . Ambil belok kiri di lampu persimpangan lalu lintas pertama setelah Candi Prambanan (lihat kantor pos di sisi kiri ) . Sesampainya di persimpangan lain dengan lampu lalu lintas , berbelok ke kiri ( utara ) dan kepala ke Manisrenggo . Terus lurus sampai Anda menemukan candi di sisi kanan jalan .
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Candi Boko

 Unknown     7:32 AM     Sejarah     No comments   

 

      Salah satu peninggalan zaman purbakala yang sangat misterius adalah Istana Ratu Boko atau Candi Ratu Boko. Candi yang satu ini terletak di sebuah bukit, sekitar 3 km dari Candi Prambanan, dan 19 km dari kota Yogyakarta Luasnya kurang lebih 16 ha, yang mencakup dua desa di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Dawung dan Sambirejo.

      Cobalah anda datang pada saat matahari terbit, atau menjelang matahari terbenam, sangat fantastis!! Dari komplek Candi Ratu Boko, anda akan bisa melihat dengan jelas, betapa indahnya bola bulat berwarna keemasan mengambang persis di gapura candi ini, dan perlahan-lahan tenggelam. Begitu juga di pagi hari, ketika matahari akan terbit.

Tata Ruang dan Arsitektur Ratu Boko
      Ratu Boko kemungkinan dibangun sekitar abad 9 M oleh Dinasti Syailendra, yang kelak mengambil alih Mataram Hindu. Sebagai sebuah monumen peninggalan zaman dahulu, Ratu Boko masih menyimpan misteri. Atribut-atribut yang terdapat di sini memang mengacu pada sebuah wilayah perkampungan. Tapi tetap saja para ahli masih sulit mengindentifikasikan, apakah ia merupakan taman kerajaan, istana, benteng, atau candi.

      Ratu Boko memiliki 3 buah teras/ tingkat, yang masing-masing dipisahkan dengan dinding batu dan benteng. Untuk mencapai teras pertama, kita harus melewati sebuah gerbang besar yang dibangun dalam 2 tahap. Di sebelah barat teras ini terdapat sebuah benteng atau Candi Batu Kapur (Temple of Limestone). Dinamakan Candi Batu Kapur karena ia memang terbuat dari batu kapur. Jaraknya kira-kira 45 m dari gerbang pertama.

     Teras kedua dan pertama dipisahkan oleh tembok andelit. Teras kedua ini dapat kita capai setelah melewati gerbang di paduraksa yang terdiri dari 3 pintu. Pintu yang lebih besar (Gerbang Utama) ada di tengah-tengah, diapit oleh dua buah gerbang yang lebih kecil.

     Teras kedua dan ketiga di pisahkan oleh benteng batu kapur dan tembok andelit. Untuk masuk ke dalam teras ketiga, kita harus melewati 5 gerbang, dimana gerbang yang paling tengah lebih besar ukurannya bila dibandingkan dengan 4 gerbang lain yang mengapitnya.

     Di teras ketiga (teras paling besar) lah terpusat sisa-sisa peninggalan. Di sini kita bisa menemukan antara lain Pendopo (Ruang Pertemuan). Pondasi pendopo ini berukuran panjang 20 m, lebar 20 m, dan tinggi 1,25 m, terletak di sebelah utara dari teras ini.

      Sedangkan di sebelah selatan, kita akan menemukan pondasi Pringgitan, berukuran panjang 20 m, lebar 6 m, dan tinggi 1,25 m. Keduanya, pendopo dan pringgitan, dikelingi oleh sebuah pagar dengan panjang 40 m, lebar 36 m, dan tinggi 3 m. Pagar ini dilengkapi dengan 3 gerbang beratap di sebelah utara, selatan, dan di sebelah barat. Tiga buah tangga dibuat untuk mendaki sampai ke pondasi tersebut.

      Di sebelah timur pendopo, terdapat Komplek Kolam Pemandian yang dikelilingi oleh pagar empat persegi panjang. Komplek ini terdiri dari 3 kelompok. Kelompok pertama, terdiri dari 3 buah kolam berbentuk persegi empat. Dua di antaranya memanjang dari utara sampai selatan, dan keduanya dipisahkan oleh sebuah gerbang. Sedangkan kelompok kedua terdiri dari 8 kolam bundar yang dibagi dalam 3 baris.
Di teras ini, kita juga bisa melihat sisa-sisa bangunan yang disebut Paseban (Ruang Resepsi) yang membujur dari utara ke selatan. Reruntuhan gerbang, pagar dan landaian juga terdapat di sini.

      Selain itu, juga terdapat Keputren (Istana atau Tempat Tinggal Putri), dimana di dalamnya terdapat sebuah kolam persegi panjang berukuran 31 x 8 m2 yang dikelilingi oleh pagar. Pagar ini mempunyai 2 gerbang, masng-masing terletak di sebelah baratdaya dan timurlaut. Sekitar 60 m dari gerbang ini, kita bisa melihat reruntuhan batu-batuan, tapi kondisi lantainya masih baik. Dasarnya berbentuk bujur sangkar berukuran 20 x 20 m.

      Selain tempat-tempat tersebut, masih banyak reruntuhan yang bisa kita temukan di Ratu Boko, misalnya saja reruntuhan Gua Laki-Laki (Male Cave) berukuran panjang 3,5 m, lebar 3 m, dan tinggi 1,5 m, serta sebuah gua yang berukuran lebih kecil lagi, Gua Perempuan (Female Cave).

      Ratu Boko telah menghasilkan banyak sekali artefak, termasuk arca-arca, baik arca Hindu (Durga, Ganesha, Garuda, lingga, dan yoni), serta arca Buddha (tiga Dhyani Buddha yang belum selesai). Selain itu, juga ditemukan keramik dan beberapa prasasti.

      Salah satu prasasti yang ditemukan adalah prasasti Siwagraha. Prasasti ini menyebutkan peperangan antara Raja Balaputra dan Rakai Pikatan. Karena kalah perang, Balaputra melarikan diri dan membangun tempat pertahanan di atas kaki bukit Ratu Boko.

      Di sana juga pernah ditemukan lima fragmen prasasti berhuruf Prenagari dan berbahasa Sansekerta,  Walaupun tidak utuh, prasasti ini masih bisa dibaca. Isinya berkaitan dengan pendirian bangunan suci Awalokiteswara, salah satu Buddhisatwa dalam agama Buddha, khususnya aliran Mahayana. Dilihat dari bentuk hurufnya, prasasti-prasasti tersebut berasal dari abad ke-8 M.

      Selain itu, juga ditemukan tiga prasasti berhuruf Jawa Kuno dalam bentuk Syair Sansekerta. Dua di antaranya memuat tahun 778 Saka atau 856 M, yang berisi pendirian lingga Kerttiwasa dan lingga Triyambaka atas perintah Raja Kumbhaya. Sedangkan prasasti satunya lagi berisi pendirian lingga atas perintah Raja Kalasodbhawa.

      Prasasti lain yang ditemukan di Ratu Boko adalah sebuah prasasti berbahasa Sansekerta-Jawa, dan sebuah inskripsi (tulisan singkat) pada lempengan emas.

Misteri Ratu Boko yang Belum Terungkap
      Walaupun begitu banyak dan beragamnya sisa-sisa bangunan ditemukan di sana, sampai sekarang fungsi Ratu Boko masih belum diketahui. Ada yang percaya bahwa bahwa Ratu Boko merupakan biara, atau sebuah tempat beristirahat dan rekreasi.

Prasasti-prasasti yang ditemukan pun agaknya sulit untuk dijadikan sebagai sumber untuk mengetahui fungsi candi yang satu ini. Tulisan-tulisan yang ditemukan di sana hanya menunjukkan bahwa Ratu Boko ada di masa antara abad ke-8-9. Prasasti yang berasal dari abad ke-8 umumnya berisi pendirian bangunan suci Buddha, sedangkan abad ke-9 berisi tentang pendirian bangunan suci Hindu sekali. Tapi karena tidak ada prasasti yang secara eksplisit menyebutkan fungsi dari setiap bangunan yang ada, maka Ratu Boko masih menjadi misteri sampai sekarang.
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Newer Posts Older Posts Home

Popular Posts

  • Gunung Api Purba
    Indahnya Gunung Api Purba Yogyakarta        Gunung api purba Nglanggeran memang purba sekali dengan usia 60 juta tahun yang lokasiny...
  • Candi Borobudur
    Candi Borobudur         Candi Borobudur merupakan satu-satunya candi budha terbesar di dunia sampai saat ini. Meskipun sekarang sudah...
  • Museum Panglima Besar Jenderal Sudirman
          Sejarah singkat Museum Panglima Besar Jenderal Sudirman terletak di Jalan Bintaran Wetan 3, Yogyakarta. Pada masa kolonial Belanda,...
  • Monumen Jogja Kembali
           Monumen Jogja Kembali merupakan ikon tempat wisata diYogyakarta selain Keraton Yogyakarta. Monjali mulai dibangun pada 29 Juni 19...
  • Taman Sari
    Taman Sari Yogyakarta Taman sari yogyakarta | Umbul Pasiraman Taman Sari Jogja atau Taman Sari Yogyakarta atau Taman Sari Wa...

Categories

  • Alam
  • History
  • HotelsYogyakarta
  • Jogja
  • Kota
  • Nature
  • Pantai
  • Sejarah

Blog Archive

  • May (6)
  • November (51)
  • October (7)

Total Pageviews

Labels

  • Alam
  • History
  • HotelsYogyakarta
  • Jogja
  • Kota
  • Nature
  • Pantai
  • Sejarah

Contributors

  • Unknown
  • Unknown

Followers

Sample Text

/*
*/

Copyright © Explore-Indonesia | Powered by Blogger
Design by Andy Sanjaya | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Distributed By Andy Sanjaya