Explore-Indonesia

  • Home
  • City
    • Jakarta
    • Yogyakarta
    • Bali
    • Jawa
    • Sumatera
    • Kalimantan
    • Sulawesi
    • Papua
  • Hotels
    • Jakarta
    • Yogyakarta
    • Bali
    • Jawa
    • Sumatera
    • Kalimantan
    • Sulawesi
    • Papua
  • Travel
    • Jakarta
    • Yogyakarta
    • Bali
    • Jawa
    • Sumatera
    • Kalimantan
    • Sulawesi
    • Papua
  • Nature
  • History
  • food beverage
  • other category

Tuesday, November 25, 2014

Museum Tani bantul

 Unknown     5:03 PM     History     1 comment   



      Budaya bertani, kurang begitu popular bagi generasi penerus. Namun, hal itu tak mematikan semangat seorang Kristya Bintara dalam mendirikan Museum Tani Jawa Jogjakarta. Melalui museum ini, dia konsisten melestarikan tradisi budaya pertanian gaya Jawa.

      SUASANA asri menyambut Radar Jogja saat memasuki Candran Kebinagung Imogiri Bantul, Jumat siang (10/10). Hamparan pematang sawah menyejukkan mata siang itu. Hijaunya padi mampu mengalahkan terik matahari yang menyengat. Memasuki gapura desa, puluhan memedi sawah terpasang di beberapa areal persawahan seluas 20 hektare. Tepat di ujung jalan, sebuah bangunan berukuran 8 x 8 meter penuh dengan hiruk pikuk manusia. Ternyata siang itu Museum Tani Jawa Jogjakarta sedang ada gawe pembukaan Gebyar Museum 2014. Di tengah hiruk pikuk itu, nampak satu orang terlihat tegang, yakni Kepala Museum Tani Jawa Jogjakarta, Kristya Bintara. Ia terlihat sibuk mengatur beberapa persiapan.

      Begitu Radar Jogja mencoba menyapanya, senyum pun terkembang.
“Monggo mas, duduk di kursi kayu ini, sambil menikmati semilir angin sawah,” katanya. Mengawali obrolan, Kris -panggilan akrab Kristya- bercerita seputar sejarah museum. Museum sederhana ini digagas sejak 1998. Berdirinya bangunan berarsitektur Jawa ini merupakan wadah komunikasi pertanian tradisional gaya Jogjakarta.

      Menurut pria kelahiran Bantul, 25 Mei 1968 ini, bertani merupakan budaya yang sangat penting. Sedangkan pada waktu itu, museum yang memiliki konsentrasi pada pertanian, tidak ada. Atas inisitif ini pula, dirinya mendirikan museum tani Tujuan mendirikan museum ini, kata Kris, untuk mengomunikasikan budaya pertanian kepada generasi muda. Menu-rutnya, dalam budaya tani, banyak bilai-nilai luhur yang dapat dipelajari. “Tentang nilai kejuangan para petani yang menjunjung kejujuran, kesederhanaan dan bersahaja. Sosok petani adalah manusia yang selalu bersyukur pada sang pencipta. Ini tercermin dengan adanya budaya wiwitan sebelum panen, dan merti desa setelah panen raya,” tutur Kris. Suami perempuan bernama Rusmilah itu menyebut nilai-nilai seperti inilah yang perlu diwariskan. “Ini karena manusia lebih banyak menuntut tanpa menikmati dan berterima kasih atas apa yang diperolehnya,” ungkapnya.

      Tradisi ini, lanjutnya, tetap dilakukan oleh para petani bertradisi Jawa. Meski hasil panen sedikit, kekayaan khasanah tanah Jawa tetap dilangsungkan. Ini bukti bahwa budaya tradisi tetap menjadi pegangan dan tonggak bagi para petani. “Alangkah indahnya ketika nilai-nilai ini bisa dipahami, diterapkan dan dilestarikan. Tidak hanya untuk bertani, filosofi hidup ini juga sangat berman-faat pada kehidupan sehari-hari,” kata ayah dari Khoirun-nisa Candra ini. Selain memiliki misi menjaga nilai-nilai pertanian, Kris juga memberdayakan warga sekitar. Salah satunya dengan mendiri-kan paket wisata tradisi di desanya. Tujuannya untuk menghidupkan perekonomian masyarakat. Terlebih, warga Kebonagung mayoritas merupakan petani sehingga mata pencahariannya sangat bergantung pada tiga bulan sekali. Ini karena usia produktif memasuki masa panen, adalah setiap tiga bulan.
Dalam jangka waktu tiga bulan ini, pundi-pundi perekonomian tersendat. Alhasil banyak petani yang sangat bergantung pada hasil panen tiga bulan kemudian.
Konsep desa wisata yang diterapkan adalah dengan menguatkan nilai-nilai tradisi. “Sehingga menanam padi, menangkap ikan, belut dan bebek di sawah, menjadi kemasan wisata. Setiap wisatawan yang datang dapat menikmati proses pembuatan emping tradisional, lalu tempe alami, juga kekayaan tradisi lainnya,” paparnya.

      Selain itu, Kris juga menyelenggarakan Festival Memedi Sawah. Acara rutin tahunan ini mengajak para petani mengha-dirkan memedi sawah secara kreatif. Selain mengandung nilai seni, juga dapat mengundang lebih banyak pengunjung. Dengan ragam kegiatan ini, Kris dapat menjalankan visi misinya dalam bidang perta-nian. Pelestarian nilai pertanian dengan cara yang menyenang-kan dihadirkan. Imbasnya, baik pelaku atau penikmat, sama-sama mendapatkan nilai tentang pertanian. “Kampanye ini wajib kita galang terus bagi generasi muda. Dulu ada siswa SMP dari Jakarta bertanya pohon nasi itu seperti apa. Ini dilema karena kenyataannya ada yang tidak tahu wujud dari padi,” katanya.

      Kris berharap, ke depannya Museum Tani Jawa dapat menguatkan ketahanan pangan. Ia ingin Indonesia yang dulu terkenal sebagai lumbung Asia bangkit kembali. Ini karena pangan merupakan kekuatan penting dalam sebuah negara. Usahanya untuk menawarkan ke masyarakat masih dalam proses. Sejak tahun 1998 dicanang-kan dan diawali dari museum, Kris masih berusaha. Bahkan dirinya tidak menampik ada kendala dalam pengenalan program-program ini.
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Masjid Kampus UGM

 Unknown     12:51 AM     Jogja     1 comment   


       Masjid Kampus UGM pertama kali dibangun bertepatan dengan mundurnya Presiden Soeharto pada tanggal 21 Mei 1998 setelah berkuasa selama 32 tahun. Peletakan batu pertama oleh Prof. Dr. Sukanto Reksohadiprodjo, M.Com. Masjid Kampus UGMdigunakan untuk pertama kalinya pada 4 Desember 1999 atau 5 hari menjelang 1 Ramadhan 1420 H, setelah menghabiskan dana sebesar Rp 9,5 miliar. Lantai satu dan lantai dua beserta halaman masjid mampu menampung jamaah sebanyak 10.000 orang.



Masjid Universitas Gajah Mada ini merupakan Masjid kampus terbesar se-Asia Tenggara. Masjid yang menjadi kebanggan khususnya oleh seluruh civitas akademika UGM ini memiliki berbagai keistimewaan. Selain terletak pada wilayah yang luas, bangunan Masjid ini memiliki keindahan arsitektur yang menonjol dan megah.

      Arsitektur bangunan Masjid UGM diadaptasi oleh berbagai gaya arsitektur dari berbagai kebudayaan di Dunia. Arsitektur Masjid Kampus UGM merupakan perpaduan dari gaya arsitektur Masjid Nabawi, kebudayaan Tionghoa, India, dan Jawa. Pengaruh India terlihat melalui penataan pekarangan masjid yang mengadopsi bangunan Masjid Taj Mahal. Arsitektur Jawa terlihat jelas pada bangunan utama dan kubah masjid. Kubah Masjid Kampus UGM berbentuk limasan sebagai representasi rumah adat Yogyakarta yang berbentuk Rumah Joglo dengan atap limasan. Tinggi struktur kubah mencapai 32 meter dengan lebar 21 meter.

     Masjid UGM memiliki wilayah sekitar yang cukup luas. Wilayah tersebut terbagi menjadi beberapa bagian, seperti tempat parkir yang luas, Taman yang telah didesain khusus dengan indah, serta air mancur dan bangunan pendukung masjid seperti gapura yang besar dan menara disekitar Masjid.
Sebagaimana dengan Masjid-masjid lainnya, fungsi utama dari Masjid UGM ini adalah untuk beribadah. Namun kelebihan Masjid ini adalah banyak faktor pendukung yang meliputi kegiatan-kegiatan keagamaannya. Selain digunakan sebagai tempat ibadah, Masjid ini juga sering digunakan untuk tempat pertemuan. hal tersebut didukung dengan adanya tempat pertemuan di dalam Masjid. Kegiatan perekonomian juga berkembang baik di Masjid Kampus UGM. Terbukti dengan adanya penjual buku disekitaran Masjid. Masjid UGM juga mempunyai menara setinggi 99 meter. Tinggi menara menyesuaikan dengan asmaul husna (nama-nama Tuhan yang baik) yang berjumlah 99 nama.
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Sendangsono

 Unknown     12:36 AM     Jogja     1 comment   


       Sendangsono adalah tempat ziarah Goa Mariaygterletak di Desa Banjaroyo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta. Gua Maria Sendangsono dikelola oleh Paroki St. Maria Lourdes di Promasan, barat laut Yogyakarta. Tempat ini ramai dikunjungi peziarah dari seluruh Indonesia pada bulan Meisertabulan Oktober. Selain berdoa, pada umumnya para peziarah mengambil air dari sumber. Mereka percaya bahwa air tersebut dapat menyembuhkan penyakit. Catatan terkait memperlihatkan, Sendangsono awalnya merupakan tempat pemberhentian (istirahat sejenak) para pejalan kaki dari Kecamatan Borobudur Magelang ke Kecamatan Boro (Kulon Progo), atau sebaliknya. Tempat itu banyak dikunjungi karena keberadaan sendang (mata air)ygmuncul di antara dua pohon sono. Kesejukansertakenyamanan tempat itu ternyata juga dimanfaatkan untuk bertapa oleh sejumlah rohaniawan Buddha dalam rangka mensucikansertamenyepikan diri. Nilai spiritualistik munculsertamenguat seiring dengan adanya kepercayaanygdidasarkan pada suatu legenda bahwa tempat itu juga dihuni Dewi Lantamsarisertaputra tunggalnya, Den Baguse Samija Dari situ bisa dilihat bahwa sebenarnya nilai rohani Sendangsono sudah terbangun sebelum Gereja Katolik berkarya di tempat itu.


       Keberadaan Sendangsono tak luput dari peran Romo Van Lith SJ, rohaniawan Belandayglama tinggal di Pulau Jawa. Hal itu juga menandakan bahwa Sendangsono tidak bisa dilepaskan dari lingkaran sejarah Gereja Katolik di Pulau Jawa mengingat Romo Van Lith sendiri merupakan salah satu rohaniwanygmenyebarkan ajaran Katolik di Pulau Jawa. Pada 14 Desember 1904 silam Romo Van Lith membaptis 171 warga setempat dengan air dari kedua pohon sono, termasuk Bapak Barnabas sebagai katekumen pertama. Dua puluh lima tahun kemudian tepatnya 8 Desember 1929 Sendangsono dinyatakan resmi menjadi tempat penziarahan oleh Romo J.B. Prennthaler SJ.



       Patung Bunda Maria di Sendangsono dipersembahkan oleh Ratu Spanyolygbegitu susahnya diangkat beramai-ramai naik dari bawah Desa Sentolo oleh umat Kalibawang.Pada 1945 Pemuda Katolik Indonesia berkesempatan berziarah ke Lourdes, dari sana mereka membawa batu tempat penampakan Bunda Maria untuk ditanamkan di bawah kaki Bunda Maria Sendangsono sebagai reliqui sehingga Sendangsono disebut Gua Maria Lourdes Sendang Sono. Dibangun secara bertahap sejak tahun 1974, hanya dengan mengandalkan sumbangan umat. Budayawansertarohaniawan, YB Mangunwijayaygmemberi sentuhan arsitektur. Konsep pembangunan kompleks Sendangsono ini bernuansa Jawa, ramah lingkungan. Bahan bangunannya memanfaatkan hasil alam.
Tahun 1991, kompleks bangunan Sendangsono mendapat penghargaan arsitektur terbaik dari ikatan arsitek Indonesia, untuk kategori kelompok bangunan khusus. Pada 17 Oktober 2004, diadakan suatu prosesisertamisa ekaristi kudus pada jam 10.00 oleh Mgr. Ignatius Suharyo Pr untuk memperingati 100 tahun Sendangsono.

      Sendangsono terletak beberapa kilometer dari jalan raya, masuk ke jalanyglebih kecil, dibeberapa tempat jalan rusak sedikit tetapi mobil sedan masih bisa lewat dengan mulussertajalan turun naik lumayan tinggi. Memasuki jalan menuju lokasi seperti biasa di kiri kanan terdapat penjual barang-barang rohani, anda mungkin bisa membeli lilin atau jerigen atau botol berbentuk patung Bunda Maria untuk menyimpan air Sendangsono. Komplek ziarahygluasnya hampir 1 hektar ini. Dari pintu gerbang masuk, peziarah akan melewati jalan salib besar. Jalan salib besar ini berawal di gerejaygada di bawah, beberapa ratus meter sebelum lokasi parkir Sendangsono ada jalan menuju ke bawahygpetunjuknya meskipun kurang jelassertakecil tertulis gereja. Dari gereja inilah asal jalan salib lama tersebut. Jarak jalan salib ini sekitar 1 kilometer.

     Di sebelah kanan dibangun jalan salib baruyglebih kecil dalam arti jarak satu perhentian ke perhentian lain sangat dekat hanya beberapa langkah saja. Diorama-diorama kisah sengsara Yesus Kristus berbentuk kecil sajasertadinaungi semacam atap. Di akhir jalan salib, akan memasuki pelataranygdi tengahnya dibagian bawah terdapat keran air untuk mengambil air dari mata air Sendangsono,ygterletak di sebelah atasnya, sumber mata airnyaygdibentuk seperti sumur ditutup.
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Monday, November 24, 2014

Embung Banjaroya

 Unknown     2:21 AM     Jogja     No comments   




      Embung Banjaroya Kalibawang dengan kapasitas sampai 10 ribu meter kubik merupakan salah satu kawasan yang menjadi daya tarik tersendiri bagi waraga Desa Banjaroya, Kecamatan Kalibawang. Pembangunan waduk mini tadah hujan merupakan pengembangan proyek dari kebun monokultur durian menoreh sebagai salah satu produk asli Kalibawang.

      Embung adalah tandon air atau waduk berukuran kecil pada lokasi pertanian yang bertujuan untuk menampung kelebihan air hujan dimusim penghujan dan pemanfaatannya pada musim kemarau untuk berbagai keperluan baik di bidang pertanian maupun kepentingan masyarakat banyak. Pembentukan embung pada dasaranya adalah untuk mengairi lahan pertanian terutama pada musim kemarau, manfaat lain dari embung adalah dibidang perikanan yang bisa dijadikan untuk kolam pemeliharaan ikan dan sebagai persediaan minuman ternak maupun untuk keperluan rumah tangga. I. Teknik pembuatan embung meliputi penentuan tekstur tanah, kemiringan lahan, bentuk, ukuran penggalian tanah, kelapisan tanah, kelapisan plastik, penembokan dan pelapisan kapur.

     Embuk Banjaroya memiliki luas 60 x 80 meter dan mampu menampung mencapai 8 – 10 ribu meter kubik air. Air dari embung tersebut bisa mengairi hingga 30 hektar kebun durian yang berada di wilayah tersebut ketika memasuki musim kemarau, selain itu debit air di musim kemarau bisa sampai 2.000 meter kubik untuk stabilisasi waduk dan mengairi kebun disekitarnya.

      Pembangunan Embuk Banjaroya juga difungsikan untuk menjaga kekuatan tanah agar tidak terjadi  longsor ketika memasuki musim penghujan. Melihat strukutur tanah di daerah Kalibawang rentan terhadap longsor, embung ini memiliki fungsi sebagai penahan laju air serta menjaga kekuatan tanah.

      Selain itu, pembangunan embung ini juga bertujuan menjadikan kawasan ini sebagai agrowisata durian serta memperbanyak ikon pariwisata di wilayah Kulon Progo. Pengembangan kawasan ini diharapkan mampu menjadi kawasan penunjang objek wisata yang sudah ada, yaitu Sedangsono dan Suroloyo.
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Puncak Suroloyo

 Unknown     12:56 AM     Nature     1 comment   


      Puncak Suroloyo merupakan obyek wisata di daerah Kulonprogo , menyimpan kisah legenda yang sangat terkenal. Yaitu tokoh Raden Mas Rangsang yang bergelar Sultan Agung Hanyokrokusumo yang mendapat petunjuk wangsit tentang kekuasaan di tanah Jawa. Beliau mendapat wangsit bila mau menjadi penguasa di tanah Jawa, beliau harus berjalan kearah barat di Keraton Kotagede menuju pegunungan menoreh dan melaksanakan tapa brata di salah satu perbukitan menoreh ini yang sekarang dikenal dengan nama puncak Suroloyo.

      Jalanan dengan kelokan yang tajam, penuh dengan tanjakan diapit oleh jurang dan bukit merupakan hal yang akan menemani perjalanan anda menuju Surolyo. Setelah beberapa waktu menuju perbukitan dengan penuh mendebarkan ini sampailah anda di kawasan Suroloyo dan perasaan anda akan tergantikan oleh pemandangan yang indah menakjubkan.

      Untuk menuju puncak Suroloyo anda harus menaiki anak tangga berjumlah 286 dengan tingkat kemiringan yang lumayan terjal. Sesekali anda harus beristirahat dulu untuk memulihkan tenaga menuju anak tangga berikutnya. Biasanya pada anak tangga yang ke 100, banyak para wisatawan mulai terenggah –engah. Setelah beristirahat secukupnya, anda dapat melanjutkan perjalanan menaiki tangga tersebut dengan hati-hati.

      Begitu kaki anda mulai menginjakkan di puncak Suroloyo maka akan disambut puluhan kupu-kupu, burung gereja dan capung berhamburan seakan menyambut kedatangan anda. Dari Puncak Suroloyo yang mempunyai ketinggian 1.019 m dpl ini, anda akan menyaksikan keindahan lanskap yang luar biasa. Candi Borobudur terlihat mungil dikelilingi 4 gunung sebagai bentengnya yaitu gunung Merapi, gunung Merbabu, gunung Sindoro dan gunung Sumbing.

     Sudah disediakan tiga gardu pandang untuk menikmati keindahan alam dari puncak Suroloyo yang  terbaik adalah saat matahari terbit sampai jam 10.00 WIB karena pemandangan di waktu – waktu tersebut biasannya cerah sehingga pemandangan di bawahnya akan terlihat jelas.

      Ada tiga pertapaan di puncak Suroloyo ini yang dapat kita temui, yaitu pertapaan Suroloyo, Sariloyo dan Kaedran. Kita mulai dari pertapaan Suroloyo yang berupa sebidang tanah dengan ukuran 7×15 m2. Pertapaan inilah yang konon dipakai tempat bertapa oleh Sultan Agung. Dari tempat ini kita arahkan pandangan kita ke utara, nun jauh disana akan terlihat Candi dan kota Magelang. Sedangkan kalau pandangan kita arahkan ke timur, anda akan melihat puncak Merapi yang berdiri gagah diselimuti awan putih.

      Selanjutnya pertapaan Sariloyo yang berada tak jauh dari pertapaan Suroloyo, dari tempat ini anda akan dapat melihat lanskap Gunung Sindaro dan Sumbing dipadu dengan kawasan perbukitan hutang lindung yang indah menghijau. Dari puncak suroloyo berjarak 200 m sebelah barat terdapat gardu pandang yang tak jauh dari tempat tersebut ada sebidang tanag yang disebut Tegal Kepanasan yang berupa tugu setinggi 1 meter yang berfungsi sebagai tanda batas wilayah DIY dan Jateng.
 Dari puncak Suroloyo sekitar 250 meter barat daya terletak pertapaan yang ketiga yaitu pertapaan Kaendran. Dari tempat pertapaan tersebut wisatawan dapat melihat wilayah Kulonprogo sampai pantai selatan. Dapat anda lihat dengan jelas walaupun cukup jauh bentangan pesisir Samudera Hindia dan kawasan pantai Glagah.
      Pada waktu-waktu tertentu puncak Suroloyo ini dipadati oleh pengunjung, terutama setiap tanggal 1 Sura ( 1 Muharram ) dimana terdapat acara upacara “jamasan” pusaka Tombak Kyai Manggolo Murti dan Songsong Manggolo Dewo yang bertempat di sendang Kawidodaren yang terletak 300 meter dari puncak. Semasa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono ke IX, kedua pusaka tersebut dititipkan kepada Mbah Manten Hadi Wiharjo, seorang sesepuh di dusun Keceme.

Lokasi

Puncak Suroloyo berlokasi di Dusun Keceme, Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh Kabupaten Kulonprogo Daerah Istimewa Yogyakarta.

Akses
Untuk bisa mencapai Puncak Soroloyo dapat memilih 2 jalur yaitu :
Dari Yogyakarta – Jalan Godean – Kenteng – Nanggulan – Kalibawang – Suroloyo.
Dari arah Semarang atau Magelang : Magelang – Muntilan – Jalan Wates – Kalibawang – Suroloyo.
Rute alternatif : ditempuh dengan jalan kaki melalui Borobudur menuju kearah selatan menuju sub terminal Samigaluh selanjutnya menuju arah Suroloyo.

Fasilitas

Fasilitas yang tersedia di Surolyo hanya berupa warung – warung kecil yang menyediakan makanan dan minuman ala kadaranya. Bila anda melewati daearah Nanggulan, anda dapat menemukan warung sate yang sangat terkenal dan konon tempat tersebut langganan Bupati Kulonprogo untuk menjamu tamu-tamunya.
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Monday, November 17, 2014

Museum Rumah Budaya Tembi

 Unknown     11:31 AM     Sejarah     1 comment   


      Museum Rumah Budaya Tembi atau Tembi House of Culture, berlokasi di jalan Parangtritis Km. 8,4 Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul Yogyakarta, merupakan sebuah museum yang mengkhususkan pada kebudayaan jawa, khususnya kebudayaan jawa yang berada di desa Tembi. Museum ini buka setiap hari Senin-Jumat, pukul 09.00-16.00 WIB. Luas bangunan utama museum ini seluas 212m2, luas seluruh bangunan ini adalah 1057m2, dan menempati tanah seluas 3500m2.

      Koleksi yang terdapat di museum ini berupa peralatan tradisional masyarakat jawa, seperti: peralatan dapur (tungku, dandang), persenjataan masyarakat jawa (keris, tombak), peralatan untuk bertani (bajak), peralatan seni (gamelan, batik). Di dalam museum juga terdapat koleksi sepeda maupun sepeda motor kuno, poster kuno, foto-foto kuno, bahkan perpustakaannya memiliki koleksi naskah hingga mencapai kurang lebih 5000 buah.

      Fasilitas yang tersedia di Museum Rumah Budaya Tembi, selain berbagai macam koleksi dan perpustakaannya, juga terdapat ruang pameran, meeting room, tempat penginapan, restauran, kolam renang, dan pendopo yang lengkap dengan satu set gamelan. Museum juga menyediakan jasa guide yang akan siap memandu dan juga menjawab setiap pertanyaan tentang Rumah Budaya Tembi. Tersedia juga fasilitas antar jemput bagi pengunjung yang menginap dari bandara atau malioboro ke Rumah Budaya Tembi.

      Kegiatan yang rutin dilakukan setiap bulan adalah pertunjukan tarian nasional dari Sabang sampai Merauke. Pertunjukan wayang juga rutin dipertunjukan di pendopo Rumah Budaaya Tembi dengan dalang lokal yang berdomisili di daerah Bantul. Kegiatan tradisional juga menjadi salah satu paket kunjungan museum. Kegiatan tradisional tersebut meliputi membajak sawah dengan sapi, membatik, bermain gamelan, dll.

      Museum ini diresmikan pada bulan November 1999 di bawah naungan Yayasan Rumah Budaya Tembi. Museum ini diresmikan bersamaan dengan peluncuran buku Ensiklopedi Kebudayaan Jawa. Rumah Budaya Tembi dibuka dengan tujuan tetap melestarikan kebudayaan jawa baik dari cara bercocok tanam, seni, peralatan hidup, bahkan permainan-permainan anak tradisional. Saat ini, Rumah Budaya Tembi dipimpin oleh Bpk. N. Nuranto serta direktur Bpk. Ons Untoro dengan penanggung jawab Bpk. M. Kusalami.

      Untuk mengunjungi museum ini, tidak perlu mengeluarkan uang sepeserpun. Pendanaan museum ini diambil dari dana pribadi pemilik museum dan para kolektor yang menitipkan koleksinya di museum tersebut. Sumber dana yang lain didapat dari restaurant, penyewaan homestay, meeting room, galeri. Pendopo juga disewakan untuk acara-acara khusus seperti ulang tahun dan pernikahan, yang dapat menjadi salah satu sumber dana yang lain.

     Di dalam pengurusan museum, dibagi dua manajemen antara museum dan penginapan. Namun, dalam pengelolaan segala fasilitas yang ada di Yayasan Rumah Budaya Tembi, tidak terjadi ketidakteraturan. Hal ini karena setiap divisi memiliki pengawasnya masing-masing. Jadi, pengurus museum berbeda dengan pengurus penginapan. Namun, di antara mereka tetap ada kerjasama dan kekompakan.

      Setiap pegawai maupun staf yang ada di Rumah Budaya Tembi sangat kompeten di bidangnya. Misalnya tour guide. Mereka tidak hanya tahu tentang Rumah Budaya Tembi, namun, benar-benar memahami seluk beluk kebudayaan jawa. Seperti cara berdiri, tutur kata, menyambut tamu, dll.

      Dalam kegiatan pemasaran, museum ini mempunyai kerjasama dengan sebuah instansi di Jakarta. Begitu pula di internet. Museum ini mempunyai domain sendiri dengan alamat www.tembi.org, yang tidak hanya memuat seputar museum saja, namun juga tentang segala aktifitas kebudayaan Jawa yang terjadi di sekitaran Jogjakarta. Museum ini juga pernah masuk ke dalam sebuah acara televisi, yang meliput tentang masakan khasnya, yaitu masakan Jawa yang mereka dapat dari sebuah tulisan Jawa Kuno, yaitu serat centini.
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Museum Panglima Besar Jenderal Sudirman

 Unknown     11:21 AM     History     1 comment   


      Sejarah singkat Museum Panglima Besar Jenderal Sudirman terletak di Jalan Bintaran Wetan 3, Yogyakarta. Pada masa kolonial Belanda, gedung ini dipergunakan sebagai rumah dinas pejabat keuangan Puro Paku Alam VII. Pada masa pendudukan Jepang, gedung ini dikosongkan dan perabotnya disita. Setelah Indonesia merdeka digunakan sebagai Markas Kompi 'Tukul' Batalion Letkol Soeharto. Sejak 18 Desember 1945 sampai 19 Desember 1948 difungsikan sebagai kediaman resmi Jenderal Sudirman, setelah dilantik menjadi Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat.

      Pada masa Perang Kemerdekaan menghadapi Agresi Militer Belanda II, gedung ini digunakan sebagai Markas Informatie voor Geheimen Brigade T tentara Belanda. Setelah pengakuan kedaulatan RI tanggal 27 Desember 1949 difungsikan sebagai Markas Komando Militer Kota Yogyakarta. Selanjutnya digunakan sebagai asrama Resimen Infanteri XIII dan Penderita Cacat. Sejak 17 Juni 1968 sampai 30 Agustus 1982 difungsikan sebagai Museum Angkatan Darat. Peresmian Museum Sasmitaloka Pangsar Jenderal Sudirman dilakukan oleh Kasad Jenderal TNI Poniman pada tanggal 31 Agustus 1982.

      Sudirman lahir pada Senin Pon 24 Januari 1916 di Dukuh Rembang, Bantarbarang, Purbalingga. Pendidikan umum Hollandsch-Inlandsche School, Cilacap, tamat 1931. Melanjutkan ke Taman Siswa dan MULO Wiworotomo, Cilacap, tamat 1934 dan HIK Muhammadiyah, Solo. Saat di MULO ini, Sudirman dididik oleh Suwardjo Tirtosupono, lulusan Akademi Militer Breda Belanda, yang tidak ingin dilantik sebagai Opsir KNIL, tetapi memilih terjun ke pergerakan nasional. Pendidikan militer ditempuh di Pusat Pendidikan Perwira PETA Jawa Boei Giyugun Kanbu Renseitai, Bogor, sebagai Daidancho (Danyon).

      Kepemimpinan dan kepribadian Sudirman teruji di Kepanduan Hizbul Wathon Muhammadiyah, Cilacap. Sudirman disegani oleh masyarakat sehingga dipercaya memimpin Kepanduan Karesidenan Banyumas, Jawa Tengah, dan Priangan Timur. Karier Sudirman semakin cemerlang, sehingga dipercaya menjadi Wakil Majelis Pemuda Muhammadiyah, guru dan Kepala HIS.

     Sudirman muda bertemu dengan Alfiah saat sekolah di MULO. Keduanya sama-sama aktif di Organisasi Pemuda Muhammadiyah. Tahun 1936 Sudirman menikah dengan Alfiah, putri R. Sastroatmodjo, sosok pedagang yang disegani di daerah Plasen, Cilacap. Keluarga Sudirman yang sederhana dan harmonis dikaruniai 4 putri dan 3 putra.

     Sebagai Komandan Divisi V/TKR Purwokerto, Kolonel Sudirman terjun langsung memimpin anak buah ke gelanggang pertempuran Ambarawa. Dengan taktik Mangkara Yuddha (Supit Urang), selama 4 hari 4 malam Kolonel Sudirman melawan tentara Sekutu yang bersenjata lengkap dan modern. Sekutu berhasil dipukul mundur tanpa sempat menyelamatkan mayat-mayat serdadunya. Palagan Ambarawa merupakan pertempuran heroik yang dimenangkan bangsa Indonesia setelah kemerdekaan.

      Agresi Militer Belanda II yang menyebabkan Pemerintah RI menyerah dan ibukota Yogyakarta jatuh  ke tangan Belanda disikapi dengan perlawanan Perang Gerilya. Selama 7 bulan perang gerilya dengan rute kurang lebih 1.009 kilometer ini secara strategis merupakan kemenangan politis yang diakui PBB, bahwa RI masih ada dan taktis membuktikan Jenderal Sudirman adalah komandan lapangan, ahli strategi perang yang tangguh, disegani anak buah dan lawan.

     Untuk melestarikan dan mewariskan nilai-nilai luhur perjuangan, pengabdian dan jasa Jenderal Sudirman kepada bangsa dan negara yang telah diangkat sebagai Pahlawan Nasional, maka kediaman tersebut diabadikan sebagai Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Sudirman.

     Tata ruang dan koleksi Museum Jenderal Sudirman
Benda-benda koleksi otentik Panglima Besar Jenderal Sudirman yang digelar di ruang pameran yang semua merupakan kediaman resmi.

RUANG I: RUANG TAMU
Dipamerkan satu perangkat meja kursi berbentuk munton yang beralaskan babut yang dilengkapi dua lampu gantung model kuno, serasi dengan gedung yang telah berusia satu abad. Meja kursi yang sederhana ini mencerminkan kepribadian Pak Dirman yang sederhana, lebih mengutamakan kepentingan perjuangan bagi bangsa dan negara daripada kepentingan pribadi. Di ruang ini Pak Dirman biasa menerima tamu pada waktu itu.

RUANG II: RUANG SANTAI
Terletak di tengah gedung, tidak hanya berfungsi sebagai ruang keluarga Jenderal Sudirman dalam membina dan mengasuh putra-putrinya, tetapi juga sebagai ruang tamu. Di ruang ini Jenderal Sudirman sering membicarakan masalah-masalah yang ada kaitannya dengan perjuangan bangsa Indonesia. Koleksi yang dipamerkan berupa raido kuno merk Philips dan benda pecah-belah yang pernah digunakan oleh keluarga Pak Dirman.

RUANG III: RUANG KERJA
Di ruang ini Pak Dirman menyelesaikan tugas-tugasnya dan mengatur kebijakan perjuangan TNI. Koleksi yang dipamerkan berupa:
Meja kerja, meja kursi tamu, pesawat telepon, lemari arsip.
Replika keris yang senantiasa dipakai Pak Dirman waktu memimpin perang gerilya.
Padang Katana sewaktu menjadi Daidancho PETA.
Senapan Lee Enfield (LE), Vickers dan SMR mitraliur.
Piagam penghargaan dan tanda jasa yang dianugerahkan Pemerintah RI kepada Pak Dirman.

RUANG IV: RUANG TIDUR TAMU
Ruang ini dahulu berfungsi sebagai ruang tidur tamu, baik keluarga maupun teman-teman seperjuangan Pak Dirman. Perlakuan terhadap para tamu sungguh sangat terpuji. Pak Dirman tidak pernah membeda-bedakan para tamu, memperlakukan dan menghormati semua tamu dengan baik sehingga para tamu merasa betah seperti di rumah sendiri. Koleksi yang dipamerkan berupa tempat tidur, almari pakaian, kursi tamu dan lukisan pemandangan.

RUANG V: RUANG TIDUR PANGSAR JENDERAL SUDIRMAN
Ruang ini dipergunakan oleh Pak Dirman sebagai kamar tidur selama tinggal di gedung ini. Koleksi yang dipamerkan berupa tempat tidur, almari pakaian dan sebuah dipan kecil tempat sembahyang serta rekalnya. Pak Dirman dikenal sebagai seorang pemimpin yang bijaksana, yang teguh serta memiliki disiplin tinggi serta sebagai tokoh yang taat beragama, tidak pernah melupakan tugas kewajiban sebagai muslimin, yang taat menjalankan ibadah sholat lima waktu. Koleksi lain yang dipamerkan berupa patung lilin life size Pak Dirman duduk di kursi, lengkap dengan pakaian tradisional, ikat kepala, sandal asli yang pernah dipakai beliau, sebuah lukisan Pak Dirman beserta Ibu Sudirman dengan busana tradisional Jawa dan mesin jahit merk Singer yang merupakan benda kesayangan Ibu Dirman. Mesin jahit tersebut menjadi pelipur lara kesepian di kala Ibu Dirman ditinggal tugas sang suami tercinta dan sering dipergunakan Ibu Dirman untuk menjahit pakaian Pak Dirman serta pakaian putra-putri beliau.

RUANG VI: RUANG TIDUR PUTRA-PUTRI
Bersebelahan dengan ruang tidur Pak Dirman, terdapat sebuah kamar tidur putra-putri dari pernikahan dengan Siti Alfiah, yang dikaruniai sembilan orang anak. Perhatian dan kasih sayang Pak Dirman terhadap putra-putrinya sangat besar. Beliau sering menasehati putra-putrinya agar bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu agar kelak menjadi orang yang berguna bagi Nusa, Bangsa, dan Negara.

RUANG VII: RUANG SEKRETARIAT
Sewaktu Pak Dirman tinggal di sini, ruang ini dipergunakan sebagai ruang sekretariat. Saat ini dipakai sebagai ruang penyimpanan koleksi benda-benda sejarah yang erat hubungannya dengan jabatan Panglima Besar, berupa seperangkat meja kursi yang pernah dipakai Letkol Isdiman sewaktu mengusulkan Kolonel Sudirman untuk dipilih dan diangkat menjadi Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia dihadapan Pak Urip Sumoharjo dan Pak Gatot Subroto. Di dinding ruangan ini terpampang foto setengah badan Letkol Isdiman dan Sumpah Anggota Pimpinan Tentara.

RUANG VIII: RUANG PALAGAN AMBARAWA
Dipamerkan maket Palagan Ambarawa sebagai pertempuran yang membuktikan keunggulan strategi dan taktik Kolonel Sudirman yang turun langsung ke gelenggang untuk memimpin anak buah melawan tentara Sekutu yang memiliki persenjataan modern dan lengkap. Kemenangan pasukan TKR dan laskar rakyat merupakan peristiwa gemilang dalam sejarah perang kemerdekaan di Indonesia. Tentara Sekutu berhasil dipukul mundur ke arah Semarang dengan korban yang sangat besar. Di ruangan ini juga dipamerkan dua pucuk senjata mesin ringan.

RUANG IX: RUANG RS PANTI RAPIH
Panglima Besar Jenderal Sudirman yang selalu bekerja keras tanpa mengenal waktu, mulai terganggu kesehatannya. Dari hasil pemeriksaan dokter diketahui bahwa paru-parunya terserang penyakit, sehingga paru-paru yang sebelah kiri harus dioperasi di tengah-tengah situasi gejolak Angkatan Perang RI sedang menumpas pemberontakan PKI di Madiun pada akhir November 1948.

Pak Dirman menjalani operasi di RS Panti Rapih, Yogyakarta. Namun mengingat situasi negara bertambah gawat, maka tanpa menghiraukan rasa sakit Pak Dirman masih juga bekerja, mengatur dan menyusun strategi militer dengan para perwira lain sekalipun saat itu harus duduk di atas kursi roda. Peristiwa tersebut digambarkan menjadi diorama evokatif.

RUANG X: RUANG KOLEKSI KENDARAAN
Saat perang gerilya dari Yogyakarta sampai Kediri, Jawa Timur pulang pergi, Jenderal Sudirman pernah naik dokar, mobil serta dibawa dengan tandu yang digambarkan sebagai diorama evokatif.

RUANG XI: RUANG KOLEKSI GUNUNG KIDUL DAN SOBO
Sewaktu Pak Dirman memimpin gerilya, beliau pernah singgah beberapa hari di daerah Wonogiri, tepatnya daerah Semanu, Kabupaten Gunung Kidul. Selanjutnya gerilya bergerak ke timur sampai Kediri, Jawa Timur. Ke arah barat daya sampai di daerah Sobo, Pacitan. Di Sobo inilah Pak Dirman tinggal agak lama. Beliau mulai melaksanakan tugasnya sebagai Panglima Besar secara teratur. Perkembangan situasi politik di dalam dan di luar negeri diikuti dengan cermat dan teratur melalui radio dan surat kabar. Hubungan komando dengan para komandan lapangan TNI maupun PDRI di Sumatera Barat berjalan lancar. Sementara itu Pak Dirman berkesempatan pula menerima kunjungan beberapa orang menteri seperti Susanto Tirtoprodjo untuk membicarakan langkah perjuangan selanjutnya. Di tempat ini pula Pak Dirman menerima Caraka (utusan) Letkol Soeharto (Presiden RI ke-2) yang melaporkan rencana serangan umum terhadap Yogyakarta. Serangan umum yang dilancarkan pada tanggal 1 Maret 1949 berhasil dengan baik dan berpengaruh besar terhadap dunia internasional. Keberhasilan serangan umum itu membuktikan kepada dunia, khususnya Belanda bahwa Republik Indonesia masih ada dan TNI sebagai kekuatan bersenjata masih meneruskan perjuangan mempertahankan Negara Republik Indonesia.

RUANG XII: RUANG DIORAMA
Menggambarkan saat Pangsar Jenderal Sudirman bermarkas di daerah Sobo sejak 1 April hingga 7 Juli 1949. Di ruang ini juga dipamerkan tandu yang digunakan Pangsar Jenderal Sudirman dalam Perang Gerilya dari Kretek menuju Playen, Gunung Kidul dan Route Gerilya dari Yogya sampai Kediri.

RUANG XIII: RUANG KOLEKSI PRIBADI
Jenderal Sudirman telah tiada. Namun jasa-jasanya senantiasa dikenang oleh seluruh bangsa Indonesia sepanjang zaman. Suatu hal yang harus dimaknai oleh generasi penerus Indonesia yaitu keyakinan dalam amanat, 'Robek-robeklah badanku, potong-potonglah jasad ini, tetapi jiwaku yang dilindungi benteng Merah Putih akan tetap hidup, tetap menuntut bela siapapun lawan yang akan dihadapi.'

RUANG XIV: RUANG DOKUMENTASI
Koleksi yang dipamerkan berupa dokumentasi foto Perang Gerilya, menjabat Panglima Besar hingga pemakaman Jenderal Sudirman di TMP Kusuma Negara Yogyakarta.

PRIBADI DAN KEPEMIMPINAN PANGLIMA BESAR JENDERAL SUDIRMAN
TAKWA DAN LOYAL
JUJUR DAN MEMBIMBING
SEDERHANA DAN TIDAK MENONJOLKAN DIRI
PENDIAM DAN BERBICARA MEMIKAT PENDENGAR
PENDIRIAN KUAT DAN DISIPLIN TERHADAP KEPUTUSAN MUSYAWARAH
TABAH DAN SABAR MENGHADAPI SITUASI
MENOMORSATUKAN KEPENTINGAN NASIONAL


Alamat:
Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Sudirman
Jalan Bintaran Wetan No. 3
Yogyakarta
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Newer Posts Older Posts Home

Popular Posts

  • Gunung Api Purba
    Indahnya Gunung Api Purba Yogyakarta        Gunung api purba Nglanggeran memang purba sekali dengan usia 60 juta tahun yang lokasiny...
  • Candi Borobudur
    Candi Borobudur         Candi Borobudur merupakan satu-satunya candi budha terbesar di dunia sampai saat ini. Meskipun sekarang sudah...
  • Museum Panglima Besar Jenderal Sudirman
          Sejarah singkat Museum Panglima Besar Jenderal Sudirman terletak di Jalan Bintaran Wetan 3, Yogyakarta. Pada masa kolonial Belanda,...
  • Monumen Jogja Kembali
           Monumen Jogja Kembali merupakan ikon tempat wisata diYogyakarta selain Keraton Yogyakarta. Monjali mulai dibangun pada 29 Juni 19...
  • Taman Sari
    Taman Sari Yogyakarta Taman sari yogyakarta | Umbul Pasiraman Taman Sari Jogja atau Taman Sari Yogyakarta atau Taman Sari Wa...

Categories

  • Alam
  • History
  • HotelsYogyakarta
  • Jogja
  • Kota
  • Nature
  • Pantai
  • Sejarah

Blog Archive

  • May (6)
  • November (51)
  • October (7)

Total Pageviews

Labels

  • Alam
  • History
  • HotelsYogyakarta
  • Jogja
  • Kota
  • Nature
  • Pantai
  • Sejarah

Contributors

  • Unknown
  • Unknown

Followers

Sample Text

/*
*/

Copyright © Explore-Indonesia | Powered by Blogger
Design by Andy Sanjaya | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Distributed By Andy Sanjaya